Irfansiswanto's Blogspot

Just another WordPress.com weblog

Sistem Kekebalan Tubuh

Bab I Pendahuluan

Latar Belakang Masalah
Pada zaman sekarang ini, penyakit-penyakit yang kita dengar dan ketahui semakin lama semakin banyak sehingga ilmu kedokteran sekarang berkembang dengan pesat keberadaanya. Karena semakin banyaknya penyakit yang ada, maka kita tidak perlu tinggal diam, kita juga harus memperdalam pengetahuan dan wawasan kita tentang kesehatan tubuh. Salah satu bagian yang harus kita perdalam pengetahuan dan wawasan kita adalah mengenai sistem kekebalan tubuh, karena sistem ini merupakan salah satu sistem yang memegang peranan penting dalam tubuh kita.
Sistem pertahanan tubuh diperlukan untuk melindungi tubuh dari serangan berbagai penyakit (Saktiyono, 2007).
Sistem kekebalan (bahasa Inggris: immune sistem) adalah sistem pertahanan manusia sebagai perlindungan terhadap infeksi dari makromolekul asing atau serangan organisme, termasuk virus, bakteri, protozoa dan parasit. Sistem kekebalan juga berperan dalam perlawanan terhadap protein tubuh dan molekul lain seperti yang terjadi pada autoimunitas, dan melawan sel yang teraberasi menjadi tumor (www.wikipedia.com).
Tetapi yang menjadi masalah kadang-kadang ialah banyak orang yang tidak mengerti dan memahami arti atau peranan dari sistem kekebalan tubuh mereka sehingga mereka dengan seenaknya mengkonsumsi obat-obat terlarang atau benda-benda yang sangat berbahaya.
Orang sekarang lebih mementingkan kebahagiaan sementara, demi mencapai itu mereka mau merusak tubuh mereka dengan lukisan-lukisan (tato) di kulit sehingga akibat dari perbuatan itu maka sistem imun mereka semakin lama semakin berkurang ketahanannya terhadap penyakit, sehingga tidak salah jika penyakit semakin lama semakin banyak
Oleh karena, fenomena-fenomena di atas , maka kami selaku penulis makalah ingin membagi pengetahuan kami kepada masyarakat khususnya bagi pelajar sehingga semakin mengerti dan memahami sistem kekebalan tubuh mereka sehingga mereka tidak sembarangan memberlakukan tubuhnya.

Rumusan Masalah
Masalah pokok yang dikaji dalam makalah ini adalah tentang sistem kekebalan tubuh, segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh, manfaat sistem kekebalan tubuh dan bagaimana aplikasinya ke dalam masyarakat mengenai sistem kekebalan tubuh ini.
Untuk itu sangat diperlukan pemikiran dan penalaran yang baik dalam menguasai setiap pembahasan dalam makalah ini sehingga makalah dampak berdampak baik adanya.

Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk :
1. Memberikan penjelasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh dan manfaatnya dalam tubuh kita
2. Sebagai bahan informasi bagi penulis makalah yang lain atau orang yang membutuhkan.

Tinjauan Pustaka
Sistem limfatik, yang terkait erat dengan darah dan sistem sirkulasi, adalah sistem drainase yang luas yang membawa air dan protein dari berbagai jaringan ke aliran darah. Ini mencakup jaringan saluran, yang digambarkan sebagai pembuluh getah bening atau limfatik, dan beruang getah bening, yang jelas cairan yang diencerkan sebanding dengan plasma darah. Ini adalah jaringan saluran yang membawa solusi jernih yang disebut getah bening. Ini juga mencakup jaringan limfoid melalui mana kelenjar getah ditransfer. Struktur juga terdiri dari semua komposisi yang didedikasikan untuk pertukaran dan penciptaan limfosit, yang mencakup limpa, timus, sumsum tulang dan jaringan limfoid yang berhubungan dengan sistem pencernaan (http://wakepedia.com)
Sistem limfatik merupakan satu sistem pengangkutan yang membantu peredaran darah, ia membawa cecair yang keluar dari salur darah kembali semula ke dalam salur darah (http://cempari.com)

Sistem limfatik adalah suatu sistem sirkulasi sekunder yang berfungsi mengalirkan limfa atau getah bening di dalam tubuh. Limfa (bukan limpa) berasal dari plasma darah yang keluar dari sistem kardiovaskular ke dalam jaringan sekitarnya. Cairan ini kemudian dikumpulkan oleh sistem limfa melalui proses difusi ke dalam kelenjar limfa dan dikembalikan ke dalam sistem sirkulasi (http://wikipedia.com)
Sistem pertahanan tubuh meliputi jarigan darah, yaitu sel darah putih dan jaringan limpa. Jaringan tubuh yang berperan penting dalam sistem pertahanan tubuh adalah jaringan darah dan jaringan limfa. Jaringan darah yang berperan dalam pertahanan tubuh adalah sel darah putih (Pratiwi, D.A,dkk, 2006)
Sistem getah bening adalah bagian vital pada sistem kekebalan, sepanjang kelenjar thymus, tulang rawan, limpa, amandel, hati, usus, dan tambalan peyer pada usus kecil.
Sistem getah bening adalah jaringan pada batang getah bening dihubungkan dengan pembuluh darah getah bening. Sistem ini mengangkut getah bening. Cairan yang mengandung oksigen, protein, dan nutrisi lain yang terus merembes melalui dinding tipis pada kapiler ke dalam jaringan tubuh untuk menutrisi mereka. Beberapa cairan ini memasuki pembuluh darah getah bening untuk segera kembali ke aliran darah. Cairan tersebut juga mengangkut zat-zat asing (seperti bakteri), sel kanker, dan sel mati atau rusak yang kemungkinan hadir di jaringan menuju pembuluh getah bening. Getah bening juga mengandung banyak sel darah putih (http:// medicastore.com)
Pembuluh limfa berisi cairan limfa (getah bening), yaitu plasma darah yang merembes keluar dari pembuluh kapiler dan masuk ke jaringan tubuh. Cairan limfa yang masuk ke jaringan tubuh kemudian menuju kapiler limfa. Kapiler-kapiler limfa akan bergabung membentuk pembuluh limfa. Cairan limfa kemudian disaring dan dibersihkan dari kuman penyakit (antigen, mikroba pantogen) saat melewati buku-buku limfa disepanjang pembuluh limfa (Saktiyono, 2007)
Menurut pengamatan biologis, timus tampak seperti organ biasa tanpa suatu fungsi khusus. Namun demikian, jika dikaji secara rinci, pekerjaannya sangatlah menakjubkan. Di dalam timuslah limfosit men-dapat semacam pelatihan. Tidak, Anda tidak salah baca. Sel-sel limfosit ini mendapat pelatihan di timus (www.info@harunyahya.com)
Respons imun nonspesifik secara nonselektif melawan bahan asing, walaupun baru pertama kali bertemu dengannya. Respons imun spesifik secara selektif ditujukan pada bahan tertentu, dengan tubuh telah mempersiapkan diri secara khusus setelah pajanan sebelumnya. Leukosit dan turunan-turunannya merupakan sel efektor utama pada sistem imun dan mereka diperkuat oleh sejumlah protein plasma yang berbeda-beda. Leukosit dibentuk di sumsum tulang, kemudian beredar selama beberapa saat di dalam darah. Namun, leukosit menghabiskan sebagian besar waktu mereka dalam misi-misi pertahanan di jaringan. Sebagian leukosit juga dibentuk, mengalami diferensiasi, dan melakukan tugas pertahanan mereka di dalam jaringan-jaringan limfoid yang berlokasi strategis di tempat-tempat yang sering dimasuki benda asing. Yang sering menginvasi tubuh adalah bakteri dan virus. Bakteri adalah organisme bersel tunggal yang mampu hidup sendiri, yang menimbulkan penyakit melalui zat-zat kimia destruktif yang mereka hasilkan. Virus adalah partikel asam nukleat yang dibungkus oleh protein, yang menyerbu sel pejamu dan mengambil alih perangkat metabolik sel bagi kelangsungan hidup mereka sendiri dengan merusak sel pejamu. Selain melawan mikroba dan sel mutan, sel-sel imun juga membersihkan debris sel, mempersiapkan perbaikan jaringan (Prawirohartono Slamet, dan Sri Hidayati, 2007)

Bab II Pembahasan
Sistem pertahanan tubuh meliputi jarigan darah, yaitu sel darah putih dan jaringan limpa. Jaringan tubuh yang berperan penting dalam sistem pertahanan tubuh adalah jaringan darah dan jaringan limfa. Jaringan darah yang berperan dalam pertahanan tubuh adalah sel darah putih (Pratiwi, D.A,dkk, 2006)
A. Sistem Limfatik
Sistem limfatik adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh. Ia memainkan peran kunci dalam pertahanan tubuh melawan infeksi dan sejumlah penyakit lainnya, termasuk kanker. Seperti sistem peredaran darah, sistem limfatik adalah suatu sirkulasi, tetapi cairan yang beredar didalamnya adalah getah bening, bukan darah. Sistem limfatik membantu transportasi zat seperti – sel, protein, nutrien, produk sisa/buangan – di seluruh tubuh. Sistem limfatik meliputi : Pembuluh limfatik (sering disebut secara sederhana ‘limfatik’), kelenjar getah bening (sering disebut ‘kelenjar limfe ’) dan Organ seperti limpa dan timus (http://info-sehat-kita.blogspot.com)

Gambar : Sistem Limfa
Fungsi sistem limfa adalah sebagai berikut:
1. Mengambil kelebihan cairan dari jaringan dan mengembalikannya ke darah
2. Mengabsorpsi lemak dan lakteal di usus halus kemudian mengangkutnya ke darah
3. Memusnahkan toxin dan menghalang perebakkan penyakit/jangkitan keseluruh badan (Immunity)
1. Pembuluh Limfatik (Pembuluh Limfa)
Pembuluh limfa berisi cairan limfa (getah bening), yaitu plasma darah yang merembes keluar dari pembuluh kapiler dan masuk ke jaringan tubuh. Cairan limfa yang masuk ke jaringan tubuh kemudian menuju kapiler limfa. Kapiler-kapiler limfa akan bergabung membentuk pembuluh limfa. Cairan limfa kemudian disaring dan dibersihkan dari kuman penyakit (antigen, mikroba pantogen) saat melewati buku-buku limfa disepanjang pembuluh limfa.
Pembuluh limfa yang halus bergabung menjadi pembuluh limfa kecil. Beberapa pembuluh limfa akhirnya bergabung menjadi pembuluh limfa besar. Pembuluh limfa besar ada dua macam, yaitu pembuluh limfa kanan dan pembuluh limfa dada (pembuluh limfa kiri)
a) Pembuluh limfa kanan (duktus limfatikus dekster) menampung cairan limfa yang berasal dari kepala, leher bagian kanan, dada kanan, dan lengan sebelah kanan. Pembuluh limfa ini bermuara di pembuluh balik di bawah tulang selangka kanan.
b) Pembuluh limfa dada (duktus toraksikus) menampung cairan limfa yang berasal dari kepala, leher bagian kiri, dada kiri, lengan kiri, dan tubuh bagian bawah. Pembuluh limfa ini bermuara di pembuluh balik di bawah tulang selangka kiri.

2. Kelenjar Getah Bening (Kelenjar Limpa)
Sistem getah bening adalah bagian vital pada sistem kekebalan, sepanjang kelenjar thymus, tulang rawan, limpa, amandel, hati, usus, dan tambalan peyer pada usus kecil.
Sistem getah bening merupakan jaringan pada batang getah bening dihubungkan dengan pembuluh darah getah bening. Sistem ini mengangkut getah bening. Cairan yang mengandung oksigen, protein, dan nutrisi lain yang terus merembes melalui dinding tipis pada kapiler ke dalam jaringan tubuh untuk menutrisi mereka. Beberapa cairan ini memasuki pembuluh darah getah bening untuk segera kembali ke aliran darah. Cairan tersebut juga mengangkut zat-zat asing (seperti bakteri), sel kanker, dan sel mati atau rusak yang kemungkinan hadir di jaringan menuju pembuluh getah bening. Getah bening juga mengandung banyak sel darah putih.
Batang getah bening mengandung penghubung pada jaringan dimana limfosit dikemas dengan ketat. Mikroorganisme yang sangat berbahaya disaring melalui penghubung, kemudian diserang oleh limfosit dan macrophages (yang juga ada pada batang getah bening). Batang getah bening seringkali diikat di daerah dimana pembuluh darah getah bening bercabang, seperti leher, ketiak, dan kunci paha.Kelenjar getah bening merupakan salah satu kelenjar yang berperan dalam pengangkutan lemak dan sistem imunitas (kekebalan) tubuh. Organ ini sangat penting untuk fungsi sistem kekebalan tubuh, dengan tugas menyerang infeksi dan menyaring cairan getah bening. Sebagian besar kelenjar getah bening ada di daerah tertentu, misalnya mulut, leher, lengan bawah, ketiak, dan kunci paha.
Penyakit-penyakit yang ditibulkan akibat dari pembengkakan kelenjar getah bening, diantaranya sebagai berikut:
a. Limfoma
Limfoma adalah suatu penyakit limfosit. Ia seperti kanker, dimana limfosit yang terserang berhenti beregulasi secara normal. Dengan kata lain, limfosit dapat membelah secara abnormal atau terlalu cepat, dan atau tidak mati dengan cara sebagaimana biasanya. Limfosit abnormal sering terkumpul di kelenjar getah bening, sebagai akibatnya kelenjar getah bening ini akan membengkak.
Karena limfosit bersirkulasi ke seluruh tubuh, limfoma – kumpulan limfosit abnormal – juga dapat terbentuk dibagian tubuh lainnya selain di kelenjar getah bening. Limpa dan sumsum tulang adalah tempat pembentukan limfoma di luar kelenjar getah bening yang sering, tetapi pada beberapa orang limfoma terbentuk di perut, hati atau yang jarang sekali di otak. Bahkan, suatu limfoma dapat terbentuk di mana saja. Seringkali lebih dari satu bagian tubuh terserang oleh penyakit ini.
Secara umum, karena sirkulasi alamiah dari getah bening, limfoma biasanya disebut sebagai penyakit yang menyerang seluruh tubuh, dan bukan hanya daerah yang jelas mengalami pembengkakan kelanjar. Kondisi ini dikenal sebagai ‘penyakit sistemik’.
Kebanyakan gejala limfoma timbul karena pembengkakan akibat pengumpulan limfosit abnormal. Gejala yang tepat tergantung pada di bagian tubuh mana pembengkakan terjadi. Sebagai tambahan, limfosit abnormal tidak dapat memenuhi peran normalnya dalam sistim kekebalan tubuh dan, tanpa pengobatan, seseorang dengan limfoma tampaknya lebih mudah terserang infeksi.
Limfoma dapat dibagi dalam dua kelompok utama :
• Limfoma non Hodgkin (sering ditulis sebagai limfoma non Hodgkin, tanpa apostrofi, atau limfoma non Hodgkin, dan sering secara singkat ditulis LNH)
• Limfoma Hodgkin (juga dikenal sebagai penyakit Hodgkin)

b. Limfadenitis
Penyebab
Limfadenitis bisa disebabkan oleh infeksi dari berbagai organisme, yaitu bakteri, virus, protozoa, riketsia atau jamur. Secara khusus, infeksi menyebar ke kelenjar getah bening dari infeksi kulit, telinga, hidung atau mata.

Gejala
Kelenjar getah bening yang terinfeksi akan membesar dan biasanya teraba lunak dan nyeri.
Kadang-kadang kulit diatasnya tampak merah dan teraba hangat.

Diangnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Untuk membantu menentukan penyebabnya, bisa dilakukan biopsi (pengangkatan jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop).

Pengobatan
Pengobatan tergantung dari organisme penyebabnya. Untuk infeksi bakteri, biasanya diberikan antibiotik per-oral (melalui mulut) atau intravena (melalui pembuluh darah).
Untuk membantu mengurangi rasa sakit, kelenjar getah bening yang terkena bisa dikompres hangat. Biasanya jika infeksi telah diobati, kelenjar akan mengecil secara perlahan dan rasa sakit akan hilang. Kadang-kadang kelenjar yang membesar tetap keras dan tidak lagi terasa lunak pada perabaan.

Pencegahan
Menjaga kesehatan dan kebersihan badan bisa membantu mencegah terjadinya berbagai infeksi.

c. Limfadenopati
Limfadenopati merujuk kepada ketidaknormalan kelenjar getah bening dalam ukuran, konsistensi ataupun jumlahnya. Pada daerah leher (cervikal), pembesaran kelenjar getah bening didefinisikan bila kelenjar membesar lebih dari diameter satu sentimeter. Pembesaran kelenjar getah bening di daerah leher sering terjadi pada anak-anak. Sekitar 38% sampai 45% pada anak normal memiliki kelenjar getah bening daerah leher yang teraba. Dari studi di Belanda terdapat 2.556 kasus limadenopati yang tidak dapat dijelaskan dan 10% dirujuk kepada subspesialis, 3.2% membutuhkan biopsi dan 1.1% mengalami keganasan. Studi kedokteran keluarga di amerika serikat tidak ada dari 80 pasien dengan limfadenopati yang tidak dapat dijelaskan yang mengalami keganasan dan tiga dari 238 pasien yang mengalami keganasan dari limadenopati yang tidak dapat dijelaskan
Limfadenopati berarti penyakit pada kelenjar atau aliran getah bening (sistem limfatik). Biasanya, penyakit tersebut terlihat sebagai kelenjar menjadi bengkak, sering tanpa rasa sakit. Pembengkakan kelenjar getah bening disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai infeksi, termasuk HIV dan TB.
Infeksi HIV sendiri dapat menyebabkan limfadenopati atau pembengkakan kelenjar getah bening. Limfadenopati adalah salah satu gejala umum infeksi primer HIV. Infeksi primer atau akut adalah penyakit yang dialami oleh sebagian orang beberapa hari atau minggu setelah tertular HIV – lihat Lembaran Informasi (LI) 103. Gejala lain termasuk demam dan sakit kepala, dan sering kali penyakit ini dianggap flu.
Walaupun limfadenopati sering disebabkan HIV sendiri, penyakit ini dapat gejala infeksi lain, termasuk TB di luar paru, sifilis, histoplasmosis, virus sitomegalia, sarkoma Kaposi, limfoma dan kelainan kulit.

3. Organ-organ Limfoid
Organ-organ limfoid mencakup sumsum merah, nodus limfa, limfa, timus, dan tonsil. Timus berfungsi untuk menghasilkan limfosit T. Organ limfoid lain berperan untuk mengumpulkan dan menghancurkan mikroorganisme penginfeksi lain di dalam jaringan limfoid.

a. Sumsum merah
Sumsum merah mencakup jaringan yang menghasilkan limfosit. Saat dilepaskan dari sumsum merah, sel-sel limfosit masih identik. Perkembangan selanjutnya apakah akan menjadi sel B atau sel T tergantung pada tempat pematangannya. Sel B mengalami pematangan di sumsum merah, sedangkan sel T mengalami pematangan di timus. Kedua jenis limfosit tersebut bersirkulasi di seluruh tubuh dan limfa, kemudian terkonsentrasi dalam limfa, nodus limfa, dan jaringan limfatik.
Sel B inilah yang mengahsilkan antibodi. Sebenarnya, sel B dan sel T memiliki kemampuan yang sama, yaitu melawan zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh. Sel B berfungsi menghasilkan antibodi ketika ada sel kuman masuk. Adapun sel T tidak menghasilkan sekret seperti antibodi, tetapi meningkatkan produksi antibodi (oleh sel B) yang nantinya juga mematikan kuman.
Sel T dibedakan menjadi tiga macam, yaitu sel penolong, sel penahan, dan sl pembunuh. Sel penolong menstimulasi plasma sel dalam memproduksi antibodi dan mengaktifkan sel fagosit dalam pembuluh darah. Apabila seseorang terinfeksi HIV (human immunodeficiency virus) maka sel penonglah yang di serang oleh virus ini. Oleh karena itu, penderita AIDS menjadi mudah terserang penyakit. Sel penahan berperan dalam mengaktifkan sel plasma dan sek fagosit. Sel pembunuh memusnahkan badan sel yang teridentifikasi oleh opsonin atau oleh antigen yang terdapat pada membran plasma. Misalnya, sel di serang oleh virus yang membawa virus antigen pada membaran plasma, maka sel pembunuh akan memusnahkan sebelum replikasi virus tersebut terjadi.
Sel B dan sel T memiliki reseptor antigen pada membaran palasmanya. Ketika antigen masuk dalam tunuh reseptor antigen pada sel B akan mengikatnya. Untuk satu jenis antigen, sel B memiliki satu jenis reseptor spesifik. Reseptor antigen khusus pada sel B di sebut sebagai antibodi membran.

b. Nodus Limfa
Nodus limfa adalah salah satu komponen dari sistem limfatik yang dapat ditemukan pada tubuh manusia. Nodus limfa adalah filter untuk partikel asing dan berisi sel darah putih. Nodus limfa berfungsi sebagai filter, dengan jaringan konektif retikular dan limfosit yang mengumpulkan dan menghancurkan bakteri dan virus. Ketika tubuh melawan infeksi, limfosit bertambah dengan deras.
Nodus limfa diselubungi jaringan ikat longgar yang membagi nodus menjadi nodulus-nodulus. Tiap nodulus mengandung ruang-ruang (sinus) yang berisi limfosit dan makrofag. Saat cairan limfa melewati sinus maka makrofag akan memakan bakteri dan makroorganisme lain yang terbawa. Jadi fungsi nodus limfa adalah menyaring mikroorganisme yang ada dalam limfa. Nodus limfa dapat bersifat tunggal atau bersifat berkelompok.
Nodus Limfa adalah bintilan tisu yang berbentuk seperti biji kacang. Berdiameter 2 hingga 35 mm, berwarna kelabu-merah jambu (greyish-pink). Di dalam nodus limfa, terdapat di sepanjang salur limfatik. Mengandung ‘leukocyte’ (sel darah putih) yang mempunyai fungsi phagositosis’. Cecair limfa mesti melalui nodus ini sebelum kembali kedalam sistem peredaran darah karena disini berlaku pemusnahan agen jangkitan dan toksin. Lokasi nodus yang boleh dikesan bengkak
adalah di leher (submandibular lymph node), ketiak (axillary lymph node) dan celah paha (popliteal lymph node)

Gambar : Nodus-nodus limfa yang terdapat pada bagian kepala dan leher anjing.

c. Limfa
Limfa merupakan organ limfosit terbesar. Fungsinya memproduksi sel darah putih dan sebagai tempat persediaan limfosit dan sel plasma. Sel plasma merupakan suatu jenis sel B yang matang, yang aktif menyekresi antibodi. Sel-sel limpa mampu memfagosit sel-sel darah merah dan keping darah yang sudah using.
Atau dapat disimpulkan limfa mempunyai dua fungsi utama, yaitu sebgai pembuang antigen yang ada dalam darah dan untuk menghancurkan sel darah merah yang sudah using (tua).

d. Timus
Timus merupakan kalenjar yang terdapat di bagian faring atau trakea. Fungsinya sebagai tempat pematangan limfosit menjadi sel T.
Timus mensekresikan hormone timopoietin yang menyebabkan kekebalan pada sel T. Timus berbeda dengan organ limfoid lainnya karena hanya berfungsi sebagai tempat untuk tempat pematangan limfosit. Selain itu juga karena timus adalah satu-satunya organ limfoid yang tidak memerangi antigen secara langsung.
Timus membesar sewaktu pubertas dan mengecil setelah dewasa.
Timus membuat sel CD4 yang baru. Hal ini dilaporkan oleh para peneliti dalam Joernal Of Clinical Investigation edisi Maret 2008.
Sel CD4 adalah sejenis sel sistem kekebalan yang disebut limfosit-T. sel tersebut dibentuk di sumsum tulang belakang dan kemudian menuju timus untuk diubah menjadi matang, sehingga diberi tambahan T pada nama sel-nya. Timus melatih limfosit-T melawan infeksi dalam tubuh, kadang dalam bentuk CD4.
Timus memproduksi sebagian besar CD4 yang dibutuhkan oleh tubuh dalam beberapa tahun pertama kehidupan dan kemudian diisi dengan lemak-lemak sebuah proses yang disebut involusi dan hampir tidak aktif sama sekali pada usia dewasa. Selama ini para ilmuwan menganggap bahwa involusi timus ini adalah permanen dan bahwa tidak mungkin untuk memancing kalenjar ini untuk membuat CD4 baru, bahkan pada orang yang sistem kekebalannya sudah sangat dirusak oleh HIV AIDS.

e. Tonsil
Tonsil adalah organ limfoid yang paling sederhana. Tonsil berfungsi untuk melawan infeksi pada saluran pernapasan bagian atas dan faring. Tonsil pada manusia mencakup adenoid, tonsil saluran, palatin, dan lidah.
Tonsil merupakan kalenjar limfoid/getah bening yang terdapat dalam rongga mulut/faring. Organ ini termasuk dalam sistem imun/pertahanan tubuh. Tonsil bersama dengan adenoid/tonsila faringeal dan tonsil lingual sering disebut Cincin Waldeyer, karena terhubung satu sama lain, maka apabila salah satu mengalami infeksi atau peradangan umumnya akan diikuti peradangan tonsil yang lain.
Peradangan/infeksi pada amandel disebut tonsillitis. Berdasarkan lamanya keluhan tonsillitis dibagi menjadi dua yaitu tonsillitis akut bisa keluhan kurang dari 3 minggu, disebut tonsillitis berulang/kronik bila terjadi infeksi sebanyak 7 kali dalam 1 tahun atau 5 kali episode gejala dalam 2 tahun berturut-turut atau 3 kali infeksi dalam 1 tahun selama 3 tahun berturut-turut.

B. Sistem Kekebalan Tubuh
Tubuh manusia telah dilengkapi dengan sistem kekebalan tubuh bawaan yang ada sejak lahir. Sistem kekebalan atau imun terdiri atas sistem pertahanan alamiah atau nonspesifik dan sistem pertahanan di dapat atau spesifik. Diantara kedua sistem imun ini terjadi kerja sama yang erat, terjadi kerja sama yang erat, yang satu tidak dapat dipisahkan dengan lainnya.
Tabel Mekanisme Pertahanan Tubuh
Pertahanan Nonspesifik Pertahanan Spesifik
Garis Pertahanan Pertama Garis Pertahanan Tubuh Garis Pertahanan Ketiga
Pertahanan fisik (kulit dan mukosa)
Pertahanan Biokimia (sekresi dari kulit dan membran mukosa) Pertahanan seluler (sel darah fagositik)
Pertahanan humoral (protein antimikroba dan respon peradangan)
Limfosit
Antibodi

1. Sistem Pertahanan Nonspesifik
Sistem Pertahanan nonspesifik merupakan sistem imun yang tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah ada dan siap berfungsi sejak lahir. Sistem ini merupakan pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan berbagai mikroba. Mekanismenya tidak menujukkan spesifisitas terhadap bahan asing dan mampu melindungi tubuh terhadap banyak patigen potensial. Mekanisme fisiologi imunitas nonspesifik berupa komponen normal tubuh yang selalu ditemukan pada individu sehat dan siap mencegah makroba masuk ke tubuh dan dengan cepat menyingkirkan makroba tersebut. Sistem imun nonspesifik meliputi pertahanan fisik atau mekanik, pertahanan biokimia, pertahanan hunoral, dan pertahanan seluler.
a. Pertahanan Fisik
Kulit dan membran mukosa yang melapisi saluran pernapasan, pencernaan, dan genitouriner (kelamin dan eksresi urin) merupakan pertahanan terdepan terhadap infeksi dalam pertahanan fisik. Selain itu, pada trakea, sel -sel epitel bersilia dapat menyapu mikroba yang terjerat didalamnya, sehingga mencegah mikroba memasuki paru-paru.
b. Pertahanan Biokimia
Selain perannya sebagai rintagan fisik, kulit dan membrane mukosa juga menghadapi panthogen dengan pertahanan kimiawi. Sekresi dari kelenjar minyak dan keringat akan membuat pH kulit menjadi asam (sekitar pH 3-5) sehingga dapat mencegah kolonisasi banyak mikroba. Zat tertentu di dalaam air ludah, air mata, dan sekresi mukosa mampu melindungi tubuh terhadap bakteri gram positif dengan cara menghancurkan dinding selnya. Berbagai bahan yang disekresikan getah lambung, usus dan empedu mampu menciptakan lingkungan yang dapat mencegah infeksi banyak mikroorganisme.
c. Pertahanan Seluler
Mikroba yang menembus garis pertahanan pertama seperti mikroba yang masuk lewat luka di kulit, akan menghadapi garis pertahanan kedua. Garis pertahanan ini sangat tergantung pada proses fagositosis, yaitu proses penelaan mikroba yang menyerang tubuh oleh jenis leukosit tertentu. Sel-sel fagositik terdiri dari neutrofil, monosit, dan eosinofil.
Neutrofil meliputi 60-70% dari seluruh leukosit. Sel-sel yang telah dihancurkan oleh mikroba akan mengirim sinyal kimiawi yang menarik neutrofil dari darah untuk datang. Neutrofil ini akan memasuki jaringan yang terinfeksi, kemudian menelan dan menghancurkan mikroba yang ada di tempat tersebut. Akan tetapi sel ini cenderung merusak diri sendiri ketika sel ini menghancurkan mikroba asing sehingga umurnya pendek.
Monosit, hanya menyusun sekitar 5% dari seluruh leukosit. Monosit baru hanya sebentar dalam aliran darah dan kemudian menuju ke jaringan untuk berkembang menjadi makrofag yang akan menetap lama dalam jaringan. Sel-sel ini akan menjulurkan kaki semu yang panjang yang dapat menempel ke polisakarida pada permukaan mikroba dan kemudian menelannya. Setelah ditelan, sel-sel tersebut akan dihancurkan dengan bantuan enzim lisozim dari lisosom.

Gambar : (a) makrofag mejulurkan kaki semu kea rah bakteri penginfeksi
(b) bakteri terperangkap oleh kaki semu dan ditelan, lalu dihancurkan di lisosom

Sel eosinofil menyusun sekitar 1,5% dari seluruh leukosit dan berfungsi memfagosit pathogen yang berukuran besar, seperti cacing dan protozoa. Selain itu, sel eosinofil menghasilkan enzim yang merusak granula sitoplasmik sel-sel parasit tersebut. Sel-sel ini hanya mempunyai kemampuan fagositiknya yang terbatas.
Selain sel-sel fagositik, pertahanan nonspesifik pada garis pertahanan kedua juga meliputi sel pembunuh alami (Natural Killer Cell). Sel-sel ini termasuk golongan limfosit dengan granula besar dan banyak mengandung sitoplasma. Jumlahnya sekitar 5-15% dari limfosit dalam sirkulasi dan sekitar 45% dari limfosit di dalam tumor. Sel mast sangat berperan dalam reaksi alergi dan imunitas terhadap parasit dalam usus dan invasi bakteri.

d. Pertahanan Humoral
Pertahanan humoral adalah pertahanan tubuh oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam sirkulasi darah. Bahan-bahan tersebut ada beberapa jenis, di antaranya adalah komplemen, interferon, CRP (C-Reactive Protein), dan kolektin.
1) Komplemen diproduksi oleh hepatosit dan monosit, terdiri atas sejumlah besar protein yang apabila diaktifkan akan memberikan proteksi terhadap infeksi dan berperan dalam respon inflamasi. Fungsi komlemen antara lain untuk:
a. Menghancurkan sel membran banyak bakteri
b. Sebagai faktor kemotatik yang menggerahkan makrofag ke tempat bakteri, dan
c. Dapat diikat pada permukaan bakteri yang memudahkan makrofag untuk mengenal (opsonisasi) dan memakannya.
2) Interferon merupakan protein yang disekresikan oleh sel yang terinfeksi virus, bersifat antivirus, dan dapat menginduksi sel-sel disekitar sel yang terinfeksi virus, sehingga menjadi resisten terhadap virus. Interferon merupakan sitokin berupa glikoprotein yang diproduksi makrofag yang diaktifkan. Interferon merupakan sel pembunuh alami dari berbagai sel tubuh yang mengandung nucleus, dan dilepas sebagai respon terhadap infeksi virus.
3) CRP, merupakan salah satu protein yang kadarnya dalam darah meningkat pada infeksi akut sebagai respon imunitas nonspesifik.
4) Kolektin, merupakan protein yang berfungsi sebagai opsonin yang dapat mengikat hidrat arang pada permukaan kuman. Lisozim merupakan protein lisosom yang terdapat dalam ludah, air mata dan sekresi mukosa yang merupakan enzim yang dapat melisis sel mikroba.

e. Respon Peradangan
Kerusakan jaringan karena luka atau trauma baik karena kecelakaan, infeksi, atau perlakuan fisik, misalnya operasi atau transplatasi jaringan, dapat member jalan bagi mikroorganisme untuk masuk. Hal ini akan memicu respon peradangan yang terlokalisir di daerah tersebut. Pada daerah yang terluka, arteriola prakapiler akan berdilatasi dan venula pasca kapiler menyempit, sehingga meningkatkan aliran darah lokal. Akibatnya akan terjadi pembesaran pembuluh kapiler sehingga darah akan bocor ke jaringan, menyebabkan bengkak dan merah di sekitar luka tersebut.
Respon peradangan dimulai karena adanya sinyal kimiawi baik dari organisme atau benda asing atau histamine. Histamine yaitu senyawa kimia yang dihasilkan oleh tubuh sebagai respon dari kerusakan jaringan. Histamine dihasilkan oleh leukosit jenis basofil dan sel mast pada jaringan ikat yang beredar di sekitar luka.

Migrasi sel-sel fagositik ke dalam jaringan luka dimulai dalam tempo satu jam setelah perlukaan dan sebelumnya diperantarai oleh kemokin sebagai pemicu terjadinya kometaksi sel-sel fagositik. Fagositosis dimulai oleh neutrofil kemudian diikuti oleh monosit yang akan berkembang menjadi makrofag dalam jaringan. Fagositosis oleh makrofag dilakukan terhadap pathogen, jaringan yang rusak dan sisa-sisa neutrofil yang lisis. Hasilnya berupa nanah yang akan diserap tubuh dalam beberapa hari.

2. Sistem Pertahanan Spesifik
Sel-sel sistem imun spesifik, yakni limfosit, masing-masing dilengkapi dengan reseptor permukaan yang mampu berikatan, seperti kunci dan anak kuncinya, dengan molekul asing spesifik, yang dikenal sebagai antigen.
Kemampuan mendeteksi bermacam-macam antigen dari berbagai limfosit tersebut dihasilkan oleh pertukaran acak beberapa segmen gen, disertai mutasi somatik, selama perkembangan limfosit. Limfosit-limfosit yang secara tidak sengaja dibentuk untuk menyerang sel-sel tubuh sendiri dieliminasi atau ditekan, sehingga mereka tidak dapat berfungsi. Dengan cara ini, tubuh mampu “mentoleransi” (tidak menyerang) antigen-antigennya sendiri.
Antigen permukaan utama di semua sel berinti adalah antigen HLA (Human Leukocyte Antigen) yang dikode oleh major histocompatibility complex (MHC), sekelompok gen dengan sekuens DNA yang khas untuk setiap individu. Terdapat dua kelompok besar respons imun: imunitas yang diperantarai oleh antibodi (imunitas humoral) dan imunitas yang diperantarai oleh sel (imunitas seluler).
Sel plasma yang berasal dari limfosit B (sel B) bertanggung jawab untuk imunitas humoral, sedangkan limfosit T (sel T) melaksanakan imunitas seluler. Sel B terbentuk dari turunan limfosit yang semula mengalami pematangan di dalam sumsum tulang.
Turunan sel T berasal dari limfosit yang bermigrasi dari sumsum tulang ke timus untuk menyelesaikan pematangan mereka. Setelah diaktifkan oleh antigen yang berikatan dengan bahan invasif asing, limfosit (sel B atau sel T, bergantung pada karakteristik antigen) dengan cepat berproliferasi, menghasilkan klon yang secara spesifik dapat melancarkan serangan terhadap bahan invasif tersebut.
Sebagian dari limfosit yang baru dibentuk tersebut tidak ikut serta dalam serangan itu, tetapi menjadi sel-sel pengingat yang berdiam menunggu, siap untuk melancarkan serangan yang lebih cepat dan kuat apabila bahan asing invasif tersebut kembali datang. Sel B dan sel T memiliki sasaran yang berbeda karena persyaratan mereka untuk mengenali antigen berbeda. Setiap sel B mengenali antigen ekstrasel bebas spesifik yang tidak berikatan dengan antigen-diri yang terdapat di sel, misalnya antigen yang terdapat di permukaan bakteri. Secara tepat, sel B aktif berdiferensiasi menjadi sel plasma, yang khusus mengeluarkan antibodi yang bersirkulasi dengan bebas untuk menyerang bakteri invasif (atau bahan asing lain), yang menginduksi pembentukan antibodi tersebut. Antibodi tidak secara langsung menghancurkan bahan asing.
Akan tetapi, antibodi meningkatkan mekanisme imun nonspesifik mematikan yang sudah diaktifkan sistem komplemen, meningkatkan fagositosis, dan merangsang sel pembunuh. Sel T, sebaliknya, memiliki persyaratan ganda untuk dapat mengikat antigen asing dalam kaitannya dengan antigen-diri HLA di permukaan sel tubuh sendiri. Dua jenis sel pejamu memenuhi persyaratan tersebut: (1) sel pejamu yang dimasuki oleh virus dan (2) sel imun lain dengan antigen asing melekat padanya. Adanya kelas-kelas antigen-diri yang berbeda di permukaan sel pejamu yang mengandung antigen asing ini menyebabkan tiga jenis sel T berinteraksi secara berbeda dengan mereka: (1) sel T sitotoksik hanya mampu berikatan dengan sel pejamu yang terinfeksi virus, di tempat sel tersebut kemudian mengeluarkan zat-zat toksik yang mematikan sel yang terinfeksi. (2) sel T penolong hanya mampu berikatan dengan sel T lain, sel B, dan makrofag yang telah bertemu dengan antigen asing.
Sel T penolong selanjutnya meningkatkan daya imun sel-sel efektor tersebut dengan mengeluarkan zat-zat perantara kimiawi tertentu. (3) sel T penekan menekan sel T dan B yang diaktifkan oleh antigen, sehingga mencegah respons berlebihan sistem imun yang dapat merusak sel pejamu normal. Pengaktifan berbagai jenis limfosit yang berbeda-beda tersebut memastikan bahwa respons imun spesifik yang timbul sesuai dan dapat menyingkirkan musuh secara efeisien. Selain itu, sel B, berbagai sel T, dan makrofag saling memperkuat strategi pertahanan satu sama lain, terutama dengan mengeluarkan sejumlah produk sekretorik penting. Dalam suatu proses yang dikenal sebagai surveilans imun, sel natural killer, sel T sitotoksik, makrofag, dan interferon yang mereka keluarkan secara kolektif mengeradikasi sel-sel kanker yang baru tumbuh sebelum mereka mendapat kesempatan untuk menyebar.

Proses Pembentukan Sel Limfosit
Limfosit B dan T akan berdiferensiasi dan membekah menjadi dua klon, yaitu sel-sel efektor berumur pendek menyerang antigen yang sama dan sel memori bermur panjang yang mengandung reseptor spesifik untuk antigen yang sama.
Perbanyakan dan diferensiasi limfosit yang terjadi pada saat pertama kali tubuh terinfeksi antigen disebut respon kekebalan primer. Dalam respon primer, dibutuhkan waktu antara 10-17 hari bagi limfosit terseleksi untuk membangkitkan respon sel-sel efektor pada awal tubuh terinfeksi antigen. Selama periode ini, sel B dan sel T terseleksi akan membangkitkan secara bertutur-turut sel plasma yang menghasilkan antibodi. Selama sel-sel efektor ini sedang bekerja maka individu yang mengalaminya menderita sakit. Gejala tersebut akan berkurang atau hilang ketika antibodi dan sel efektor T membersihkan antigen dari tubuh.
Bila tubuh terinfeksi lagi dengan antigen yang sama maka respon akan menjadi lebih cepat (2-7 hari), hal ini disebut respon kekebalan sekunder. Jumlah antibodi dalam tubuh akan jauh lebih banyak dan memiliki afinitas lebih besar terhadap antigen. Kemampuan sistem kekebalan untuk membangkitkan respon kekebalan sekunder merupakan dasar mekanisme imunologis.

Kegagalan Sistem Pertahanan Tubuh
1. Penyakit Autoimun
Dalam keadaan normal individu tidak menghasilkan antibodi yang boleh merosakkan sel-sel tubuhnya sendiri kerana tubuh mempunyai toleransi terhadap antigen diri. Toleransi ini diselenggara oleh rangkaian sel T dan B serta produknya yang kompleks. Walau bagaimanapun, dalam sesetengah penyakit gerak balas imun dijana terhadap sel atau tisu diri. Antibodi terhadap antigen diri dipanggil autoantibodi dan penyakit yang terhasil dikenali sebagai penyakit autoimun.
Dalam sesetengah keadaan tindak balas terhadap antigen diri berlaku secara normal dan mempunyai fungsi fisiologi mengawal gerak balas imun. Autoantibodi yang wujud pada aras fisiologi normal mungkin bertindak sebagai komponen mekanisme homeostasis tubuh seperti pengangkutan tisu lama untuk dimusnahkan. Penghasilan autoantibodi normal ini adalah terkawal ketat, dan apabila kawalan ini gagal penyakit autoimun boleh terhasil.
Penyakit-penyakit autoimun dikelaskan sebagai spesifik-organ atau tak spesifik-organ bergantung sama ada gerak balas yang terlibat adalah terhadap antigen yang terhad taburannya kepada satu organ atau lebih luas. Sesetengah haplotip HLA lebih cenderung terdedah kepada penyakit autoimun. Haplotip B8, DR3 kerap dikaitkan dengan penyakit spesifik-organ, sementara artritis reumatoid dikaitkan dengan satu jujukan nukleotida yang terdapat pada DR1 dan DR4.
A. Penyakit-penyakit Spesifik-organ
1. Myasthenia gravis
Antibodi dihasilkan terhadap reseptor asetilkolin pada persimpangan neurootot. Reseptor ini dimusnahkan menyebabkan isyarat dari saraf yang dibawa oleh asetilkolin tidak diterima oleh otot dan otot menjadi lemah. Penyakit ini boleh dirawat dengan perencat kolinesterase dan plasmaferesis untuk membersihkan autoantibodi.

2. Diabetes mellitus bergantung insulin
Penyakit ini dikenali juga sebagai diabetes jenis I (diabetes juvana) dan disebabkan oleh sel Tc spesifik memusnahkan sel b pankreas yang terlibat menghasilkan insulin. Apabila sel b dimusnahkan kurang insulin akan dihasilkan. Aktiviti sel Tc bergantung kepada sitokin dari sel CD4 Th1, oleh itu kerentanan terhadap penyakit ini dikaitkan dengan individu yang mempunyai alel MHC II HLA-DR3 dan -DR4. Simptom-simptom penyakit ini dirawat dengan suntikan insulin. Siklosporin A yang menekan sel Tc telah berjaya digunakan untuk merawat penyakit ini.
3. Pernicious anemia
Penyakit ini berlaku pada usus. Sel plasma dalam mukosa perut merembeskan autoantibodi (IgG) terhadap faktor intrinsik dan mengganggu pengambilan normal vitamin B12. Pergabungan autoantibodi kepada faktor intrinsik menghalang pengangkutan vitamin B12 yang perlu untuk pematangan eritrosit dan tidak disintesis oleh tubuh. Oleh itu, lebih banyak eritrosit tak matang yang tak efisien mengangkut oksigen dihasilkan.
4. Anemia hemolisis autoimun
Autoantibodi dihasilkan terhadap berbagai antigen eritrosit seperti antigen ABO dan Rh. Pergabungan antibodi kepada eritrosit akan menyebabkan pemugaran eritrosit terpeka oleh limpa. Kesannya ialah anemia. Pengaktifan pelengkap juga boleh berlaku dan menyebabkan hemolisis.
5. Sindrom Goodpasteur
Autoantibodi dihasilkan terhadap kolagen jenis IV yang terdapat pada membran dasar alveolus peparu dan kapilari glomerulus ginjal. Pelengkap akan diaktifkan dan tisu ini dimusnahkan.
6. Sklerosis berganda
Sklerosis berganda (multiple sclerosis) ialah sejenis penyakit nyahmielin (demyelinating disease) pada sistem saraf pusat. Mielin ialah satu lapisan selaput berlemak yang memudahkan pengangkutan impuls saraf. Dalam penyakit sklerosis berganda, selaput ini dimusnahkan dan perpindahan impuls menjadi perlahan. Proses nyahmielin mungkin diperantarakan oleh gerak balas imun terhadap antigen diri, iaitu mielin. Autoantibodi anti-mielin akan bergabung dan pemusnahan selaput ini berlaku hasil tindakan bersama pelengkap. Pencetusan proses nyahmielin mungkin dimulakan oleh infeksi virus.
7. Penyakit Grave
Autoantibodi dihasilkan reseptor TSH (thyroid stimulating hormone) dan kesannya ialah hipertiroidisme. Dalam keadaan normal sel tiroid dirangsang oleh TSH dari kelenjar pituitari yang bergabung kepada reseptor TSH. Apabila autoantibodi bergabung dengan reseptor ini, kelenjar ini akan dirangsang untuk merembeskan hormon dan menjadi hiperaktif. Penyakit ini boleh dirawat dengan dadah anti-tiroid atau pembuangan tiroid.
8. Penyakit Hashimoto
Kelenjar tiroid diserang oleh limfosit dan fagosit menyebabkan keradangan dan tiroid menjadi bengkak (goiter). Autoantibodi dihasilkan terhadap tiroglobulin dan pemusnahan sel-sel tiroid berlaku. Kedua-dua keimunanan humor dan perantaraan sel terlibat. Kesannya ialah hipotiroidisme. Penyakit ini dirawat dengan tiroksin.

B. Penyakit-penyakit Tak Spesifik-organ
1. Artritis reumatoid
Penyakit ini disebabkan pemusnahan sendi-sendi terutamanya pada jari. Pemusnahan ini berpunca dari sel keradangan Th1 yang mengaktifkan sel-sel sinovial menghasilkan enzim-enzim hidrolisis. Enzim-enzim ini memusnahkan kartilaj, ligamen dan tendon. Pesakit-pesakit mempunyai faktor reumatoid, iaitu antibodi terhadap bahagian Fc IgG. Kehadiran faktor reumatoid digunakan untuk diagnosis artritis reumatoid.

2. Lupus eritematosus sistemik (SLE)
SLE ialah satu penyakit autoimun kronik dan pelbagai organ yang melibatkan tindak balas imun terhadap beberapa antigen diri. Dalam SLE, kompleks imun yang terdiri dari DNA atau nukleoprotein diri, antibodi spesifik dan pelengkap, tertempat dalam kulit, ginjal dan sendi-sendi. Ini menyebabkan eritema, glomerulonefritis dan artritis, masing-masing. Antibodi anti-nukleus (DNA, nukleoproein) boleh dikesan dalam lebih 90% pesakit dan 20% mempunyai faktor reumatoid. Autoantibodi terhadap RNA, eritrosit, platlet juga boleh dikesan. Ciri utama penyakit ini ialah kemerahan berbentuk kupu-kupu (butterfly rash) pada hidung dan pipi. Satu lagi ciri penyakit ini ialah fenomenon sel LE (lupus erythematosus cell). Apabila darah pesakit ini dieram pada 37oC selama 30 – 60 min, limfosit menjadi bengkak dan membebaskan bahan nukleusnya. Bahan ini diopsoninkan oleh antibodi anti-DNA dan pelengkap, dan difagositosis oleh sel LE. Kehadiran antibodi anti-DNA dan sel LE digunakan untuk diagnosis SLE. Penyakit ini lazimnya berlaku pada wanita berumur antara 20 – 40 tahun.
3. Sindrom Sjogren
Ini ialah penyakit keradangan kronik yang diperantarakan sel T CD4 yang memasukki kelenjar eksokrin (terutamanya kelenjar lakrimal dan air liur). Sindrom Sjogren lazimnya dikaitkan dengan penyakit tisu hubungan lain seperti artritis reumatoid dan SLE.
4. Sindrom Guillain-Barre
Penyakit ini menjejaskan saraf periferi dan menyebabkan kelemahan yang mungkin berakhir dengan kelumpuhan. Lazimnya ia berlaku selepas pemvaksinan (seperti influenzae) atau selepas infeksi (contohnya measles, hepatitis). Kemungkinan gerak balas imun terhadap agen menginfeksi bertindak terhadap tisu neuron kerana kehadiran epitop yang dikongsikan.

2. Alergi
Alergi atau hipersensitivitas tipe I adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya imunogenik (antigenik)atau dikatakan orang yang bersangkutan bersifat atopik. Dengan kata lain, tubuh manusia berkasi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing dan berbahaya, padahal sebenarnya tidak untuk orang-orang yang tidak bersifat atopik. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut alergen.
Alergi dan Penyebabnya Alergi merupakan suatu reaksi abnormal dalam tubuh yang disebabkan zat-zat yang tidak berbahaya. Alergi timbul bila ada kontak terhadap zat tertentu yang biasanya, pada orang normal tidak menimbulkan reaksi. Zat penyebab alergi ini disebut allergen. Allergen bisa berasal dari berbagai jenis dan masuk ke tubuh dengan berbagai cara. Bisa saja melalui saluran pernapasan, berasal dari makanan, melalui suntikan atau bisa juga timbul akibat adanya kontak dengan kulit seperti; kosmetik, logam perhiasan atau jam tangan, dll. Zat yang paling sering menyebabkan alergi: Serbuk tanaman; jenis rumput tertentu; jenis pohon yang berkulit halus dan tipis; serbuk spora; penisilin; seafood; telur; kacang panjang, kacang tanah, kacang kedelai dan kacang-kacangan lainnya; susu; jagung dan tepung jagung;sengatan insekta; bulu binatang; kecoa; debu dan kutu. Yang juga tidak kalah sering adalah zat aditif pada makanan, penyedap, pewarna dan pengawet.

3. Penyakit Imunodefisiensi
Penyakit Immunodefisiensi adalah sekumpulan keadaan yang berlainan, dimana sistem kekebalan tidak berfungsi secara kuat, sehingga infeksi lebih sering terjadi, lebih sering berulang, luar biasa berat dan berlangsung lebih lama dari biasanya. Jika suatu infeksi terjadi secara berulang dan berat (pada bayi baru lahir, anak-anak maupun dewasa), serta tidak memberikan respon terhadap antibiotik, maka kemungkinan masalahnya terletak pada sistem kekebalan. Gangguan pada sistem kekebalan juga menyebabkan kanker atau infeksi virus, jamur atau bakteri yang tidak biasa.
Bab III Penutup
Kesimpulan
Sistem kekebalan adalah sistem pertahanan manusia sebagai perlindungan terhadap infeksi dari makromolekul asing atau serangan organisme, termasuk virus, bakteri, protozoa dan parasit. Sistem kekebalan juga berperan dalam perlawanan terhadap protein tubuh dan molekul lain seperti yang terjadi pada autoimunitas, dan melawan sel yang teraberasi menjadi tumor
Sistem limfatik adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh. Ia memainkan peran kunci dalam pertahanan tubuh melawan infeksi dan sejumlah penyakit lainnya, termasuk kanker. Seperti sistem peredaran darah, sistem limfatik adalah suatu sirkulasi, tetapi cairan yang beredar didalamnya adalah getah bening, bukan darah. Sistem limfatik membantu transportasi zat seperti – sel, protein, nutrien, produk sisa/buangan – di seluruh tubuh. Sistem limfatik meliputi : Pembuluh limfatik (sering disebut secara sederhana ‘limfatik’), kelenjar getah bening (sering disebut ‘kelenjar limfe ’) dan Organ seperti limpa dan timus.
Fungsi sistem limfa adalah sebagai berikut:
1. Mengambil kelebihan cairan dari jaringan dan mengembalikannya ke darah
2. Mengabsorpsi lemak dan lakteal di usus halus kemudian mengangkutnya ke darah
3. Memusnahkan toxin dan menghalang perebakkan penyakit/jangkitan keseluruh badan (Immunity)
Tubuh manusia telah dilengkapi dengan sistem kekebalan tubuh bawaan yang ada sejak lahir. Sistem kekebalan atau imun terdiri atas sistem pertahanan alamiah atau nonspesifik dan sistem pertahanan di dapat atau spesifik. Diantara kedua sistem imun ini terjadi kerja sama yang erat, terjadi kerja sama yang erat, yang satu tidak dapat dipisahkan dengan lainnya.

Daftar Pustaka
Saktiyono, 2007. Seribupena Biologi. Jakarta: Erlangga
Pratiwi, D.A, dkk. 2006. BIOLOGI Untuk SMA kelas XI. Jakarta:
Erlangga.
Prawirohartono, Slamet dan Sri Hidayati. 2007. Sains Biologi 2 SMA. Jakarta: Bumi Aksara.
Sumber lain
http:// http://www.aidsinfonet.org

http://asnani-biology.blogspot.com

http://buneyasmin.multiply.com

http://carisehat.com

http://cempari.com

http://info-sehat-kita.blogspot.com

http://info@harunyahya.com

http://keluargasehat.wordpress.com

http:// medicastore.com

http://pkukmweb.ukm

http://www.scumdoctor.com

http://spiritia.or.id

http://wakepedia.com

http://wikipedia.com

One comment on “Sistem Kekebalan Tubuh

  1. irfansiswanto
    May 5, 2010

    asli karya nyaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 5, 2010 by .
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: