Irfansiswanto's Blogspot

Just another WordPress.com weblog

Autisme

Autisme
Autisme adalah suatu keadaan (kondisi) mengenai seseorang yang sejak lahir ataupun saat balita yang mengalami kesulitan dalam melakukan hubungan sosial atau komunikasi yang normal dengan sesamanya.
Akibatnya si anak tersebut merasa terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas, dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen,1993)
Untuk memeriksa apakah seseorang anak menderita autis atau tidak digunakan standar International tentang autis, ICD-10 (International Classification Of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autis Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia.
Kriteria tersebut adalah : Untuk hasil diagnosa, diperlukan total 6 gejala atau lebih dari no. (1), (2), dan (3), termasuk setidaknya 2 gejala dari no. (1) dan masing-masing 1 gejala dari no.(2) dan (3).
1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik : Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai; Kontak mata sangat kurang; Ekspresi wajah mati; Gerak-gerik kurang tertuju.
Tidak mampu menjalin persahabatan dengan sesamanya. Tidak ada rasa simpati dan empati di dalam dirinya (tidak dapat merasakan apapun yang dirasakan oleh orang lain)
2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi : Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tidak berkembang. Anak tidak berusaha berkomunikasi secara non-verbal. Bila anak bisa berbicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan sering mengulang-ulang kata-kata yang sama. Lalu cara bermainnya kurang variatif, kurang imajinatif, dan tidak dapat meniru pembicaraan orang lain.
3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dalam hal minat, perhatian, dan kegiatan. Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan. Fokus dan hanya memikirkan kegiatan yang ritualistic atau rutinitas yang tidak berguna.
Sering memperhatikan benda-benda yang aneh.

Penyebab Autis

Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktor. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/kejiwaan. Ahli lainnya berpendapat bahwa autism disebabkan oleh penggabungan makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi dengan zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar sehingga menyebabkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.
Beberapa teori yang didasari beberapa penelitian ilmiah yang telah dikemukakan untuk mencari penyebab dan proses terjadinya autis. Beberapa teori penyebab autis adalah :
– Teori Kelebihan Opiloid – Teori Kolokistokinin
– Teori Gulten-Casein – Teori Oksitosin Dan Vasopressin
– Teori Genetik (Heriditer) – Teori Metalotionin
– Teori Imunitas – Teori Autoimun dan Alergi Makanan
– Teori Zat Darah – Teori Infeksi
– Teori Sekretin – Teori Kelainan Saluran Cerna
– Teori Paparan Aspartame – Teori Kekurangan Vitamin

Walaupun paparan logam berat (air raksa) terjadi pada setiap anak, namun hanya sebagian kecil saja yang mengalami gejala autis. Hal ini sangat berkaitan dengan teori genetik, salah satunya berkaitan dengan teori Metalotionin. Beberapa penelitian anak autis tampaknya ditemukan adanya gangguan metabolism metalotionin.
Metalotionin merupakan sistem utama yang dimiliki oleh tubuh dalam mendoktisifikasi air raksa, timbal dan logam berat lainnya. Setiap logam berat memiliki afinitas yang berbeda terhadap Metalotionin. Berdasarkan afinitas tersebut air raksa memiliki afinitas yang paling kuat terhadap Metalotionin daripada logam yang lainnya.
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilaporkan para ahli menunjukkan bahwa gangguan Metalotionin disebabkan oleh beberapa hal diantaranya :
– Difisiensi Zinc (Zn)
– Jumlah Logam Berat yang berlebihan
– Difisiensi Sistein
– Malfungsi regulasi element Logam
– Kelainan genetic
Perdebatan yang terjadi berkisar tentang kemungkinan penyebab autis disebabkan oleh vaksinasi anak. Tetapi penelitian yang dilakukan oleh Andrew Wakefield (Inggris), Bernand Rimland (AS) mengenai hubungan antara vaksinasi terutama MMR (Measles, Mumps, Rubella) dan autis. Didapat bahwa pemberian MMR tidak menyebabkan autis. Tetapi penelitian ini mendapat banyak pertentangan dari masyarakat Amerika Serikat.
Banyak pula ahli yang mengatakan bahwa bibit autis telah ada sebelum bayi dilahirkan. Kelainan ini dikonfirmasikan dalam hasil pengamatan beberapa keluarga melalui gen autism. Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika Serikat mengatakan korelasi antara autisme dan cacat lahir disebabkan oleh thalidomide, menyimpulkan bahwa kerusakan otak terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin.
Peneliti lainnya, Minshew menemukan bahwa pada anak yang terkena autis ada bagian otak yang mengendalikan pusat memori dan emosi menjadi lebih kecil daripada anak normal. Peneliti ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan atau pada saat kelahiran bayi.
Karin Nelson, ahli neoroly Amerika menyelidiki proten otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi normal mempunyai kadar protein yang lebih kecil tetapi empat sampel berikutnya mempunyai kadar protein tinggi yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein otak tinggi ini berkembang menjadi autis dan keterbelakangan mental. Nelson menyimpulkan autism terjadi sebelum kelahiran bayi.

Ciri-ciri Anak Autis
A. Komunikasi
Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata-kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu sangat singkat.
B. Bergaul
Lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan temannya. Tidak suka berteman. Tidak bereaksi terhadap isyarat dalam bersosialisasi.
C. Kelainan Pada Alat Indera
Sangat sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan rasa
D. Bermain
Tidak reflek dan tidak berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya.
E. Tingkah Laku
Orangnya hiperaktif. Suka marah tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Sangat agresif terhadap orang lain atau dirinya sendiri. Suka melakukan tindakan yang berulang-ulang yang tidak berguna.

Penyembuhan
Penyakit autis kemungkinan besar dapat disembuhkan, tergantung dari kadar penderitanya. Kabar terakhir di Indonesia, dua orang penderita autis dapat disembuhkan dan anehnya mereka berprestasi, di Amerika penderita autis sangat ditangani dengan serius oleh pemerintah.

One comment on “Autisme

  1. irfansiswanto
    February 28, 2010

    ini karya original

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 28, 2010 by .
%d bloggers like this: