Irfansiswanto's Blogspot

Just another WordPress.com weblog

Episode Kelam Valentina (Oleh : Butet Benny Manurung)

Babak I
1. (Aku kembali ke kota asalku, Medan. Banyak hal yang telah berubah, arus lalu lintasnya juga semakin padat dan macet. Hingga akhirnya aku sampai ke Jalan Willem Iskandar. Parit di sisi jalan muntah kekeyangan dengan sampah dengan luapan lumpur)
2. Velen : Persetan dengan semua ini (ucapnya dengan kesel). Di Jakarta banjir, dan disini juga banjir menyamButku. Aku hanya ingin cepat sampai di rumah. Permintaan IBulah yang ingin kupenuhi. Wanita yang genap tiga puluh tahun melahirkanku ke dunia dan memutuskan plasentanya dariku (pikirnya dengan kesel di dalam hatinya sambil mengingat percakapan di telepon dengan IBunya)
3. IBu : Valen, pulanglah dulu nak, minggu depan kan kamu ulang tahun ke -30. Tidakkah kau ingin merayakannya bersama IBu di Medan (pinta IBu dengan suara memohon di ujung telepon)
4. Valen : Bu, Bukannya Valen tak ingin merayakannya bersama IBu. Tapi Valen belum siap Bu…
5. IBu : Pulanglah saying, IBu mohon demi IBu, nak. IBu sangat merindukanmu.
6. Valen : (Aku tidak sanggup kuasa untuk berbohong kepada IBunya) oke baiklah Bu, Valen akan pulang Jumat sore
7. IBu : Makasih saying ….(jawabnya dengan gembira)
Babak II
1. (Valen sampai di rumahnya. Tangis haru IBunya menyamButnya. Valen merasa seorang anak hilang yang ditemukan kembali. Bahkan adikku Aprilia juga sangat berbahagia berjumpa denganku)
2. Valen : Ma, Valen capek…. Valen mao istirahat dulu
3. IBu : Ya, nak… pigilah ke kamar yang sudah disediakan…
4. Valen : Aku duluan ya semuanya (sambil mendorong kopernya)
Babak III
1. (Sabtu pagi tepat di hari ulang tahun Valen yang ketiga puluh. Matahari sudah menukik. Sulur-sulurnya menyergap pembaringanku melalui daun jendela yang terBuka lebar.)
2. Valen : Hoam…. Aduh aku bangun kesiangan …. Mungkin karena semalam aku kelelahan. Perjalanan dari rumah ke Bandara Soekarno-Hatta sangat macet. Belum lagi penerbangan yang delay dan kelamaan mengobrol melepas rindu dengan IBu tadi malam (sambil mengosok-gosok kelopak kedua matanya). Aku hamper tidak pernah berpikir akan bisa kembali ke kota ini. Episode kelam yang kualami telah memBuatku trauma untuk menjejakkan kakiku di kota ini (pikirnya sambil mengenang masa lalunya)
3. IBu : Selamat ulang tahun, sayang (ucapnya sambil mengecup kening lemButku)
4. Valen : (Aku rasakan kehangatan itu lagi. Kehangatan kecupan seorang IBu. Akh … betapa lama episode kelam itu telah merenggutnya dariku. Berapa banyak ulang tahun yang kulewatkan tanpa kecupan itu).. Terima kasih, Bu… (jawabku dengan air mata berdurai)
5. IBu : Maafkan IBu nak, IBu yang salah tidak bisa menjagamu dengan baik harusnya IBu ada disisimu nak… (ucap IBu untuk kesekian kalinya sejak delapan tahun episode kelam itu dimulai)
6. Valen : Sudahlah Bu…Ibu tidak bersalah. Ini sudah menjadi takdir.
7. (Akhirnya tangis Ibu Valen pun reda. Valen terharu ketika Ibunya mengajaknya menikmati makanan yang sudah dipersiapkannya. Aprilia juga tampak sudah menunggu sambil menyalakan lilin diatas kue ulang tahunku)
8. Valen : Ibu masih ingat makanan kesukaan Valen, Bu? (tanyaku)
9. Ibu : Tak satupun dalam diri kamu yang Ibu lupa Nak.
10. (Kala menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan memotong kue kupandangi wajah Ibuku. Dia masih cantik walaupun guratan-guratan duka tergambar di wajahnya. Sepuluh tahun terakhir banyak duka yang menimpanya. Kepergian Bapak karena serangan jantung, Bang Mario yang ditemukan sakaw di kamar mandi, adikku Junita berhenti sekolah karena menikah, dan puncaknya sebuah episode kelam menimpaku)
11. Ibu : Nak, terimalah cincin ini bermata kecubung ungu ini.
12. Valen : Bu… terima kasih, Bu (pelukku sambil berpikir bahwa Ibuku rupanya masih ingat warna kesukaanku warna ungu yang penuh misteri) Bu,, sore nanti Valen ingin berkeliling kota Medan (pintaku)
13. Ibu : Kamu tidak apa-apa, nak.
14. Valen : Aku tahu Ibu takut kalau aku belum bisa menjejak tubuh kota ini lagi. Karena terlalu banyak menyimpan duka dan merupakan setting episode kelamku dimulai.. Tidak apa-apa, Bu. Percayalah Valen akan baik-baik saja.
Babak IV
1. (Aku berkeliling kota mengendarai mobil abangku. Karena sudah seminggu bertugas di Palembang. Aku tahu dia sekalian ingin menghabiskan hari Valentine disana bersama Mariana, kekasihnya yang ditugaskan disana)
2. Valen : Apa-apaan ini kok banyak kali poster-poster. Tiang-tiang listrik, pohon, dinding-dinding rumuh penuh warna dengan gambar para caleg (gumamku)
3. (Hingga akhirnya dia memperlambat laju mobilnya. Dia fokus melihat salah satu calon caleh itu. Dia memperhatikan baik-baik foto caleg itu)
4. Valen : Oh Tuhan??? Benarkah itu dia??? Bahkan nama yang tertera di bawah poster itu pun member kesaksian yang sama. Itu memang dia. Pria jahanam yang menyutradarai dan pemeran utama episode kelam dalam hidupku (gumamku dengan bimbang)
5. (Kembali episode kelam itu terputar di kepalaku)
6. Valen : Suatu sore ketika aku menemuinya untuk memenuhi undangannya. Dia adalah kerabat jauh Bapak yang berjanji akan member pekerjaan kepadaku. Karena aku tahu uang pensiunan Bapak hanya cukup untuk membeli Buprenorfin untuk Bang Mario
7. Caleg : Om sangat berhutang budi pada Bapakmu Valen. Oh iya, pasti hari ini kamu berulang tahun. Namamu Valentina (ucapnya di kantornya yang apik)
8. Valen : Iya Om, hari ini Valen berusia dua puluh tahun.
9. (Kami berbicara banyak hal. Tidak terasa hari beranjak senja, hingga malam menjemput. Para pegawai sudah pulang. Tinggallah aku disana. Di ruangan itu, bersama pria jahanam itu mengunci pintu dan memaksaku melayaninya)
10. Caleg : Tenang Valen, Om hanya ingin memberimu hadiah ulang tahun yang tak akan pernah kau lupakan (ujarnya dengan mata jelalatan)
11. Valen : Oh Tuhan… lagi-lagi aku teringat mimpi buruk itu. Mimpi buruk yang bertahun-tahun membuatku trauma. Jangankan untuk menikah, berpacaran saja aku masih trauma. Kini dia mempertontonkan senyumnya yang direkayasa semanis mungkin di poster itu (umpatnya dengan kesel)
12. (Mohon Doa dan Dukungannya. Jika Tuhan menginginkan saya akan mewakili Anda, membawa perubahan dan keadilan bagi semua)
13. Valen : Bener… bener pembohong kamu!! (umpatnya) Adilkah ketika kau merenggut keperawananku? Adilkah ketika aku kehilangan kebahagiaanku? Adilkah ketika kau ancam tutup mulut? Adilkah jika kau mengancam membunuh Ibuku jika Aku melaporkan kebiadapanmu? (umpatku dengan amarah yang meledak-ledak)
14. (Valen memutar haluan mobilnya menuju alamat yang tertera pada poster itu sebagai alamat posko kemenangannya. Harapan Valen tidak sia-sia. Valen menemukan pria itu disana, dihadapan orang-orang yang menjadi tim suksesnya. Penuh wibawa dia member pengarahan. Lalu Valen muncul disana, dilihatnya ekspresi ketakutan di wajahnya. Lalu pria itu terjatuh, ketakutan, dan mengerang kesakitan. Dia akhirnya menembuskan nafas terakhirnya)
15. (Episode kelam dari sinema hidup Valen pun berakhir)

One comment on “Episode Kelam Valentina (Oleh : Butet Benny Manurung)

  1. irfansiswanto
    March 27, 2010

    ini adalah karya teks drama ku dengan mengambil karya Benny Manurung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 27, 2010 by .
%d bloggers like this: