Irfansiswanto's Blogspot

Just another WordPress.com weblog

Self-Management

            Saya setuju dengan apa yang ditulis Pak Novel pada Slide Powerpointnya bahwa self-management ditentukan oleh beliefs kita. Jika saya mengilustrasikannya seperti gunung es. Self-management itulah gunung es yang seutuhnya. Doing adalah es yang terlihat dipermukaan  sedangkan beliefs adalah es yang berada di dalam air. Jikalau kita selidiki lebih mendetail, es yang terlihat itu kira-kira 10% dari keseluruhan gunung es dan 90% adalah es yang berada di air. Ini artinya  diri kita yang sebenarnya dipengaruhi 90% dari apa yang kita percayai (beliefs) dan hanya 10% dari apa yang kita lakukan (doing).

            Maka kurang tepat untuk mengetahui siapa diri kita sebenarnya jika hanya berfokus pada apa yang kita tunjukkan dipermukaan. Kita sangat perlu menyelidiki apakah kepercayaan yang kita yakini sebenarnya karena apa yang kita yakini akan memengaruhi pola pikir dan akhirnya memengaruhi tindakan yang kita ambil. Oleh karena begitu pentingnya kepercayaan yang kita yakini. Makanya Rasul Paulus di dalam Kolose 2 : 8 memperingatkan kita agar jangan ditawan dengan filsafat yang kosong dan palsu menurut ajaran turun temurun dan roh-roh dunia. Firman Tuhan dengan jelas menyuruh kita untuk memiliki dan mengembangkan filsafat yang benar yaitu menurut Kristus (Knight, 2009, hal. 198).

            Apa pun yang kita lakukan tidak ada yang bersifat netral. Segala sesuatu yang kita kerjakan dipengaruhi oleh apa yang kita percayai sebagai hal yang nyata (metafisika), yang benar (epistemologi), dan yang berharga (aksiologi). Metafisika, epistemologi, dan aksiologi merupakan determinan filosofis (Knight, 2009). Jadi, dapat disimpulkan segala sesuatu yang kita kerjakan tidak terlepas dari filsafat pribadi kita termasuk di dalam membangun self-management.

            Semua orang ingin memiliki self-management yang baik termasuk saya. Untuk memiliki self-management yang baik terlebih dahulu saya membangun filsafat pribadi yang sesuai iman Kristen. Artinya metafisika, epistemologi, dan aksiologi saya harus sesuai dengan iman Kristen. Metafisika di dalam iman Kristen menjawab pertanyaan siapakah saya?, epistemologi menjawab pertanyaan apakah yang benar?, dan aksiologi menjawab pertanyaan apakah yang bernilai di hidup ini?.

            Metafisika saya, saya adalah ciptaan Tuhan yang telah jatuh ke dalam dosa tetapi karena begitu besar karunia-Nya sehingga Dia mengirimkan Yesus Kristus untuk menebus setiap orang berdosa sehingga hubungan kita dengan Allah Pencipta yang semula telah rusak sekarang sudah direstorasi oleh kehadiran Yesus Kristus. Perlu diingat, ketika manusia jatuh ke dalam dosa, keseluruhan daripada natur manusia rusak total. Artinya manusia tidak akan pernah memikirkan Tuhan atau bahkan mengalami-Nya di dalam hubungan pribadi dengan. Pada saat kondisi inilah manusia mengalami yang namanya kematian rohani.

            Oleh karena saya mengimani bahwa saya adalah ciptaan Tuhan artinya saya menganut teori penciptaan yang dituliskan oleh Alkitab. Dengan demikian saya akan menolak semua teori diluar daripada teori penciptaan yang dituliskan Alkitab.

            Kepercayaan ini akan mempengaruhi apa yang saya pikirkan. Ketika saya percaya bahwa saya adalah ciptaan Tuhan, maka yang saya pikirkan adalah bagaimana untuk terus berusaha menjaga relasi saya dengan Tuhan agar tidak terputus. Apa yang saya pikirkan ini akan mempengaruhi apa yang saya lakukan. Oleh karena itu, saya akan berusaha untuk hidup kudus karena saya mengetahui bahwa Tuhan sangat benci dengan dosa. Dengan pola seperti ini, maka pelan-pelan self-management kita akan lebih baik setiap harinya.  

            Epistemologi saya, saya mengimani 100% apa yang dituliskan oleh Alkitab. Apa yang ditulis Alkitab itulah yang benar menurut iman saya. Alkitab adalah standar mutlak ukuran suatu kebenaran bagi saya. Artinya setiap tindakan, pemikiran, dan perasaan yang sedang dan hendak saya lakukan harus didasarkan pada Alkitab. Contohnya saya ingin membalas dendam kepada orang lain karena dia sudah menghancurkan hidup saya. Saya ingin membuat orang itu hidupnya berantakan. Itu adalah pemikiran dan tindakan yang ingin saya lakukan sebelumnya tetapi karena Alkitab mengatakan itu hal yang salah. Maka saya tidak akan melakukan itu karena itu menyakiti hati Tuhan saya dan akhirnya akan merusak hubungan pribadi saya dengan Tuhan.

            Walaupun demikian, kita jangan terlalu fanatik. Kita harus ingat satu prinsip yaitu common grace (anugrah umum) artinya Tuhan juga mengaruniakan kebenaran diluar daripada Alkitab karena semua kebenaran adalah kebenaran Tuhan. Contohnya teori relativitas Einstein itu adalah kebenaran Tuhan walaupun kita ketahui Albert Einstein bukanlah orang Kristen. Kita juga harus menerima kebenaran ini karena ini juga kebenaran Tuhan.

             Dengan demikian, dapat dikatakan  jikalau kita mengimani bahwa segala sesuatu yang benar itu adalah yang dituliskan Alkitab maka kita akan berusaha untuk berpikir yang sesuai dengan Firman Tuhan dan akhirnya melakukan tindakan yang tidak bertentangan Firman Tuhan. Pola hidup seperti ini akan membangun self-management kita yang dikehendaki oleh Tuhan.

             Aksiologi saya, segala sesuatu yang bernilai menurut kepercayaan saya adalah prinsip-prinsip atau nilai-nilai Kristiani yang dituliskan di dalam Firman Tuhan. Seperti yang tertulis di dalam Filipi 4:8 “…semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Jadi yang bernilai bagi saya adalah memikirkan dan melakukan semua prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang dituliskan di dalam Firman Tuhan seperti yang tertulis di dalam Filipi 4:8.

             Rasul Paulus menuliskan prinsip ini kepada jemaat Filipi bukan karena Rasul Paulus kurang kerjaan tetapi karena Roh Kudus melalui perantaraan Rasul Paulus mengingatkan jemaat Filipi untuk memikirkan sesuatu yang bernilai dan dikehendaki Allah. Firman Tuhan ini juga berlaku buat kita semua, kita sangat perlu memikirkan dan melakukan sesuatu yang bernilai dan sesuai ajaran Firman Tuhan.

             Ketika saya mengimani yang bernilai adalah segala sesuatu yang dituliskan di dalam Alkitab, maka saya akan berusaha untuk memikirkan hal yang dituliskan di dalam Firman Tuhan yang bernilai dan berusaha untuk melakukannya.

              Pada akhirnya, saya menyadari bahwa ketika saya menuliskan paper tentang apa yang saya percayai dan imani. Itu bukanlah sesuatu yang mudah. Begitu banyak kegagalan yang saya alami. Saya seringkali gagal memimirkan, merasakan, dan bahkan melakukan apa yang telah saya tuliskan di atas. Saya sadar bahwa saya butuh pertolongan yang berasal dari luar diri saya. Saya butuh Roh Kudus Allah untuk terus mengingatkan, menuntun, dan mengajarkan hal-hal yang sesuai dengan Firman Tuhan kepada saya. Mata rohani saya seringkali dibutakan oleh hawa nafsu dan kedagingan saya. Oleh karena itu saya benar-benar membutuhkan kasih karunia Allah melalui Roh Kudus-Nya agar terus mengingatkan saya akan setiap kesalahan yang telah saya perbuat (Sproul, 2005, hal. 147).

             Saya menyadari bahwa untuk membangun self-management diri yang baik diperlukan pertolongan dari Tuhan dan komitmen kita yang sungguh. Jikalau hanya berpusat pada komitmen kita untuk berusaha mengendalikan diri sebaik mungkin sesuai Firman Tuhan maka kita akan gagal karena standar Allah adalah sempurna. Untuk itulah kita perlu pertolongan Tuhan untuk terus memberikan kita anugrah dan kekuatan agar benar-benar dapat hidup sesuai dengan apa yang dituliskan di dalam Firman Tuhan. Jikalau kita hanya berpusat pada anugrah Allah untuk membuat kita hidup sesuai Firman-Nya. Bukannya tidak bisa Allah membuat kita hidup kudus, tetapi Allah tahu betul siapa ciptaan-Nya. Kita adalah manusia yang berpribadi. Sebagai seseorang yang berpribadi, maka kita dianugrahi akal pikiran, kehendak, dan emosi (Hodge, 2003, hal. 523). Oleh karena itu, Tuhan menuntut tanggungjawab kita sebagai manusia yang berkepribadian untuk memanajemen diri (self-management) kita sesuai dengan Firman Tuhan atau bahasa rohaninya hidup kudus (hidup yang sesuai kehendak Tuhan).

              Jadi kesimpulan terakhir daripada paper ini adalah self-management kita ditentukan oleh apa yang kita percayai dan untuk membangun self-management kita yang baik diperlukan dua faktor yaitu anugrah Allah dan komitmen pribadi kita untuk hidup kudus.

              Semoga kiranya paper ini bermanfaat buat kemuliaan Tuhan. Terimakasih dan Tuhan Yesus memberkati.

One comment on “Self-Management

  1. irfansiswanto
    July 4, 2013

    ini adalah karya terbaru saya
    semoga bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 4, 2013 by .
%d bloggers like this: