Irfansiswanto's Blogspot

Just another WordPress.com weblog

Peran Orangtua di dalam Mengembangkan Spiritualitas Anak

BAB I PENDAHULUAN

Ada beberapa alasan saya memilih topik ini sebagai judul paper saya. Alasan pertama, saya melihat bagaimana orangtua pada zaman kini semakin lama semakin tidak mengetahui bagaimana cara untuk mendidik anak mereka yang sesuai kebenaran Firman Tuhan. Mereka berpikir dengan memasukkan anak mereka ke sekolah yang terkenal dan bonafide apalagi sekolah dengan label Kristen itu sudah menjamin semuanya termasuk kerohanian anak mereka. Mereka  mungkin berpikir dengan membelikan gadget yang terbaru itu sudah dapat dikatakan orangtua yang memenuhi kebutuhan anak. Mungkin juga mereka berpikir dengan tidak memukul anak mereka atau memarahi anak mereka sudah dapat dikatakan orangtua yang baik dan sayang anak.

Ketika saya melihat fenomena ini hati saya begitu sedih karena hal ini juga terjadi di dalam keluarga Kristen. Begitu bertentangan dengan apa yang difirmankan Tuhan. Tuhan meminta keluarga Kristen untuk menjadi berkat bagi keluarga yang lain tetapi apa yang terjadi keluarga Kristen tidak ada bedanya dengan keluarga yang non-Kristen. Pertanyaannya bagi kita adalah apakah mendidik dan membesarkan anak adalah seperti yang saya ungkapkan diatas? Jikalau tidak, bagaimana mendidik dan membesarkan anak yang sebenarnya?.

Alasan kedua, tidak bisa dipungkiri mungkin saja saya dipercayakan oleh Tuhan untuk mengajar murid yang berasal dari beragam latar belakang keluarga. Di sekolah saya adalah orangtua mereka. Artinya di sekolah saya mengambil peranan sebagai orangtua mereka layaknya dirumah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya saya harus mengetahui bagaimana peranan orangtua yang benar dan sesuai kebenaran Firman Tuhan.

Alasan ketiga, saya adalah pribadi yang ingin memiliki sebuah keluarga dan anak. Saya ingin melaksanakan mandat budaya yang diperintahkan oleh Tuhan tetapi saya tidak mau asal-asalan melaksanakannya. Saya harus mempersiapkan diri saya sebagai seorang suami dan orang tua bagi anak-anak saya. Oleh karena itu, salah satu cara saya mempersiapkan diri menjadi seorang suami dan orangtua dengan mempelajari dan mendalami bagaimana peranan dari orangtua dari literatur dan Alkitab.

Di dalam paper ini saya akan memaparkan peranan dari orangtua yang sesuai prinsip Alkitabiah. Harapan saya kiranya paper ini bermanfaat bagi pembacanya dan terlebih lagi Tuhan berkenan atas tulisan ini.

BAB II ISI

Sebelum kita melangkah lebih jauh membahas tentang peranan orangtua di dalam mengembangkan spritualitas anak. Pertama, kita terlebih dahulu mengetahui gambaran tentang keluarga itu sendiri. Chafin, 1978 dalam Kristianto, 2006, hal.139-140 memberi gambaran tentang maksud keluarga dalam lima identifikasi yaitu sebagai berikut:

1) Keluarga merupakan tempat untuk bertumbuh, menyangkut tubuh, akal budi, hubungan sosial, kasih, dan rohani. Manusia diciptakan menurut gambar Allah sehingga mempunyai potensi untuk bertumbuh. Keluarga merupakan tempat memberi energi, perhatian, komitmen, kasih dan lingkungan yang kondusif untuk bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus Yesus. 2) Keluarga merupakan pusat pengembangan semua aktivitas. Dalam keluarga setiap orang bebas mengembangkan setiap karunianya masing-masing. 3) Keluarga merupakan tempat yang aman untuk berteduh saat ada badai kehidupan. 4) Keluarga merupakan tempat untuk mentransfer nilai-nilai bagi setiap anggota keluarga dan saling belajar hal yang baik. 5) Keluarga merupakan tempat munculnya permasalahan dan penyelesaiannya.

            Jika kita berangkat dari gambaran keluarga yang dikemukakan oleh Chafin maka orangtua akan lebih mengerti dan memahami apa itu keluarga dan terlebih lagi tidak memandang remeh sebuah keluarga dan anak-anak yang telah Tuhan percayakan kepada mereka. Dengan demikian sebagai orangtua akan berusaha menjadi orangtua yang  sebaik mungkin buat anak-anak mereka.

Setelah mengetahui gambaran keluarga dengan jelas. Kedua, kita harus memahami hakikat anak dalam keluarga agar pemahaman kita semakin jelas. Menurut Sutjipto Subeno (2008, hal. 56) mengatakan bahwa Alkitab memandang bahwa keberadaan seorang anak di dalam keluarga bukanlah sekadar “ulah” papa dan mama, tetapi merupakan pemberian Allah. Sebagai karunia Allah, seorang anak harus diterima dengan ucapan syukur yang sepenuhnya. Anak bukan datang di keluarga kita secara kebetulan. Ia hadir karena perkenanan Allah. Itu berarti Allah sedang memberikan hak istimewa dan sekaligus tanggungjawab kepada keluarga tersebut untuk memelihara dan membesarkan anak-anak itu di dalam pengenalan akan Tuhan, sampai kelak ia dapat memenuhi tugas panggilan yang Allah tetapkan baginya.

Dari pernyataan Sutjipto Subeno diatas saya dapat mengatakan bahwa satu peranan orangtua yang paling vital dan esensi adalah memelihara dan membesarkan anak-anak yang telah Tuhan percayakan dalam pengenalan akan Tuhan. Dikatakan paling vital dan esensi karena tiada yang lebih penting di dalam hidup selain pengenalan akan Tuhan yang benar. Ini artinya orangtua sejak kecil harus membina kerohanian anak agar dapat mengenal Allah yang hidup di dalam kehidupannya sehingga mereka memiliki iman yang benar kepada Tuhan. Permasalahannya sekarang adalah apa yang orangtua harus lakukan agar dapat menuntun anak memiliki iman yang benar kepada Kristus (spiritualitas yang benar). Di dalam paper ini saya akan paparkan beberapa hal yang harus orangtua lakukan agar dapat menuntun anak memiliki iman yang benar kepada Kristus (spiritualitas yang benar).

  1. Mendidik Anak Mengasihi Tuhan Secara Berulang-ulang

Dalam Ulangan 6:4-9, Allah menyatakan bahwa Ia menghendaki umat-Nya dengan sungguh mengajarkan kepada anak-anak mereka untuk mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatan. Artinya, sejak kecil, anak-anak sudah harus diajarkan untuk mengasihi Tuhan Allah dengan sungguh-sungguh, melebihi apapun dan siapapun di dalam  dunia ini, semakin hari semakin kuat serta menjadikan Dia sebagai pusat hidup satu-satunya (Santoso, 2011).  

W. L. Alexander (1986, dalam Santoso, 2011) menafsirkan bahwa perintah Tuhan ini menuntut orangtua sebagai suami-isteri untuk saling mengasihi sebagai wujud kasih mereka terhadap Allah. Kemudian mereka menyatakan kasih kepada Allah, dengan mengasihi anak-anak mereka. Dengan demikian orangtua mengajar anaknya untuk mengasihi Tuhan, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi terutama melalui teladan hidup.

Ini bukanlah tugas yang mudah bagi orangtua mengajarkan anak mengasihi Tuhan melalui teladan hidup. Ini artinya orangtua harus memberikan contoh yang hidup cara mengasihi Allah di semua aspek kehidupan dari orangtua. Dengan kata lain dapat dikatakan orangtua harus mengaplikasikan buah roh di dalam kesehariannya. Contoh: ketika orangtua berkata-kata atau sedang menasehati harus dilandaskan atas kasih, lemah lembut, dan kebaikan. Ketika orangtua sedang menghukum juga harus berlandaskan kasih. Orangtua juga harus dapat menguasai dirinya sendiri dengan baik. Orangtua juga harus menunjukkan bagaimana dia mencintai Kristus dan itu harus teraplikasikan di dalam perkataan, perbuatan, dan tingkah lakunya sehari-hari.  

Teladan hidup yang secara nyata dapat mereka lihat dan rasakan inilah yang membuat anak dapat melihat citra Allah di dalam diri mereka. Jikalau orangtua gagal memberikan teladan hidup yang benar, maka akibatnya anak-anak akan gagal melihat citra Allah di dalam diri mereka. Hal ini jika dibiarkan begitu saja akan menyebabkan anak tidak memiliki iman yang benar akan Kristus dan akhirnya anak tidak akan mengerti apa tujuan Allah menciptakan mereka. Oleh karena sudah seharusnya orangtua menyadari bahwa mereka harus memberikan teladan hidup yang benar sesuai Firman Tuhan.

  1. Mendidik Anak di Jalan yang Benar

Amsal 22:6 “Train up a child in the way he should go, and when he is old he will not depart from it” (NKJV). Menurut J. D. Doughlas (1991, dalam Santoso, 2011) ayat ini dapat diartikan bahwa Tuhan memerintahkan orangtua untuk mendidik anak-anaknya demkian, pada waktu mereka masih kecil, sehingga anak dapat memulai hidupnya di jalan yang benar, di jalan yang patut ditempuhnya. M. Henry (1976, dalam Santoso 2011) menafsirkan bahwa Amsal 22:6 ini berkata bahwa setiap anak perlu dididik oleh orangtua yang berkomitmen mendidik anak dengan bijaksana, di jalan hidup yang telah direncanakan Tuhan dan bukan jalan hidup menurut kehendak anak, sehingga anak tidak akan pernah menyimpang dari jalan-Nya, seumur hidupnya.

Dari kedua tokoh tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Tuhan menginginkan agar para orangtua benar-benar berkomitmen untuk mendidik anak di jalan yang telah Tuhan rencanakan di dalam hidupnya. Tuhan pasti memiliki sebuah rencana yang indah di dalam menciptakan setiap anak. Sudah menjadi tugas orangtua untuk menuntun anaknya agar tetap berada di jalan yang benar. Oleh karena itu, orangtua harus meminta hikmat dan kekuatan dari Tuhan agar dapat mengarahkan anak-anak yang telah Tuhan percayakan kepada mereka ke jalan yang Tuhan tetapkan.

Kalimat ini berimplikasi bahwa orangtua harus bisa menemukan cara mengembangkan bakat dan karunia anaknya masing-masing. Mereka harus dapat membantu anak menemukan dan mengembangkan setiap talenta dan karunia yang telah anugerah di dalam setiap anak sehingga bakat dan talenta akhirnya dipakai dan dipertanggungjawabkan setiap anak di hadapan Tuhan.

  1. Mendidik Anak di dalam Ajaran dan Nasihat Tuhan

Di dalam Efesus 6:4, Tuhan menyatakan tanggungjawab setiap ayah untuk mendidik anaknya dalam nasihat dan ajaran Tuhan dengan tidak menimbulkan kemarahan dalam hati anak. Menurut D. B. Lockerbie (2005, dalam Santoso, 2011), kata “mendidik” yang dipakai dalam ayat ini, dalam bahasa Yunani adalah paideia, mengandung arti mendidik yang menekankan karakter dan prinsip atau nilai hidup. Jika orangtua mendidik anak dengan bijaksana, tidak menimbulkan kemarahan dalam hati anak, dan akan menumbuhkan karakter yang indah dalam diri mereka. Menurut William Hendriksen (1967, dalam Santoso, 2011) satu hal yang paling penting harus dilakukan oleh setiap ayah, yaitu mendidik anak-anaknya demkian, sebagai misi utama seorang ayah, yakni membawa hati anak ke dalam hati Sang Juruselamat, menuntun anak mengenal Penebusnya.

Jikalau kita telaah lebih lanjut kata “nasihat dan ajaran Tuhan” ini mengarah kepada Firman Tuhan. Dengan kata lain dapat dikatakan Tuhan Yesus mendorong para ayah untuk mengajarkan kebenaran Firman Tuhan kepada anak secara utuh dengan mengandalkan pertolongan Roh Kudus. Proses belajar yang demikian ini akan menolong anak mempercayai Alkitab sepenuhnya dengan iman yang murni dan membangun hidupnya dengan menaati Firman Tuhan seumur hidunya, seperti yang diajarkan Tuhan Yesus (Santoso, 2011).

Untuk itulah, salah satu peranan dari orangtua adalah mengadakan kebaktian keluarga dan saat teduh agar kebenaran Firman Tuhan itu semakin nyata di dalam kehidupan setiap anak. Hal ini didukung oleh Kristianto (2006, hal. 151) yang mengatakan ada dua hal penting yang seharusnya dilakukan dalam keluarga agar keluarga tersebut dapat tumbuh secara rohani menuju kepada kedewasaan penuh, yaitu: kebaktian keluarga dan saat teduh.

Kebaktian keluarga dilaksanakan secara bersama oleh seluruh anggota keluarga dan seisi rumah. Dalam kebaktian keluarga dilibatkan semua anggota keluarga. Misalnya, ayah menyampaikan Firman Tuhan, ibu memimpin acara, anak-anak sebagai pemimpin pujian. Kebaktian keluarga dapat diadakan pada malam hari sehingga semua anggota keluarga dapat mengikutinya. Apabila memungkinkan dapat diadakan setiap hari atau dua hari sekali dengan waktu 30 menit – 60 menit (Kristianto, 2006, hal. 151).

Saat teduh merupakan waktu yang disisihkan setiap hari oleh setiap pribadi, biasanya pagi hari, untuk bersekutu dengan Allah, melalui doa, pujian, dan membaca Firman Allah. Saat teduh merupakan hal yang sangat penting sebagai sarana pertumbuhan rohani. Saat teduh harus ini harus dilaksanakan setiap hari, karena sehari tanpa saat teduh akan berdampak hari yang dijalani akan penuh dengan kekalahan dan kekalahan. Sebaliknya mendisiplinkan diri mengadakan saat teduh setiap hari akan membawa pertumbuhan rohani dan perilaku yang semakin diperbaharui (Kristianto, 2006, hal. 151).

  1. Melakukan Baptisan Anak dalam Kristus

Sutjipto Subeno di dalam bukunya Indahnya Pernikahan Kristen mengatakan bahwa salah satu hal yang perlu dikerjakan oleh orangtua dalam pertanggungjawaban untuk pendidikan dan pemeliharaan anaknya adalah melakukan baptisan anak. Anak di dalam keluarga Kristen adalah anak anugerah. Untuk itulah, Tuhan telah menyediakan satu wadah yaitu Baptisan Anak.

Baptisan anak mempunyai beberapa makna : (a) anugerah Allah telah turun ke anak tersebut dengan kelahirannya di keluarga Kristen; (b) pernyataan orangtua anak tersebut untuk mendidik anak tersebut di dalam iman yang benar; dan (c) proklamasi anak tersebut yang merupakan calon di dalam keluarga Allah, yang karenanya dimasukkan di dalam keanggotaan gereja lokal tertentu (Subeno, 2008, hal. 65). Untuk itulah salah satu peranan dari orangtua di dalam membimbing kerohanian anak dengan melakukan Baptisan Anak dalam Kristus.

 

       

BAB III KESIMPULAN & SARAN

3.1 Kesimpulan

Dari penjelasan diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa peranan orangtua di dalam keluarga begitu penting dan vital karena lembaga pendidikan pertama anak ada di dalam keluarga. Oleh karena itu, sudah seharusnya orangtua menyediakan suatu kondisi keluarga yang begitu kondusif sehingga anak dapat belajar pendidikan nilai-nilai yang benar di dalamnya khususnya nilai-nilai agama Kristen sehingga anak memiliki iman yang benar kepada Kristus.

Iman yang benar ini hanya diperoleh dengan pengenalan Firman Tuhan yang benar. Oleh karena itu di dalam Ulangan 6:4-6 dan Efesus 6:4 Tuhan Yesus memberikan perintah kepada para orangtua agar mengajarkan Firman Tuhan kepada anak sedini mungkin sehingga pada masa tuanya anak tidak menyimpang dari jalan yang telah Tuhan persiapkan buat anak tersebut. Disinilah terlihat peranan orangtua yang begitu vital yaitu menuntun, membina, dan mengajarkan kebenaran Firman Tuhan setiap hari secara berulang-ulang kepada anak dan tentunya orangtua harus meminta hikmat dan pertolongan dari Roh Kudus untuk dapat melaksanakan peranannya. Oleh karena itu, sangat penting sekali dari kecil anak sudah dibiasakan untuk berdoa di dalam nama Yesus, membaca, menggali dan mendengarkan Firman Tuhan, diajarkan saat teduh, diajak ke gereja, serta perlunya di dalam keluarga diadakan kebaktian keluarga setiap harinya. Dengan demikian kerohanian anak akan semakin bertumbuh dan semakin dewasa.

3.2 Saran

Saran saya buat orangtua di dalam mengembangkan spiritualitas anak adalah sebagai berikut:

  • Tetap memohon dan meminta hikmat kebijaksanaan dari Tuhan di dalam membina kerohanian anak agar kiranya orangtua dapat menuntun anak ke jalan yang Tuhan telah tetapkan buat mereka.
  • Orangtua perlu membaca buku-buku psikologi perkembangan anak agar semakin memperkaya orangtua baik dari segi pemikiran maupun cara di dalam mendidik dan mengarahkan kerohanian anak.
  • Orangtua juga perlu mendengarkan kata-kata, komentar, dan bahkan keluhan dari anak sehingga orangtua tidak selalu merasa benar dan paling benar. Orangtua juga perlu menyadari mereka adalah manusia biasa.
  • Orangtua perlu menyadari bahwa pertumbuhan itu bertahap, jadi orangtua perlu sabar di dalam membina dan mengarahkan anak untuk memiliki kerohanian yang baik.   

 

DAFTAR PUSTAKA

Kristianto, P. L. (2006). Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen. Yogyakarta: ANDI (Penerbit Buku dan Majalah Rohani).

Santoso, M. P. (2011). Pola Alkitabiah Pendidikan Anak 7-12 Tahun yang Efektif Untuk Proses Pembentukan Karakter Pemimpin Hamba di Seminari Anak “Pelangi Kristus”. Veritas, 39-60.

Subeno, S. (2008). Indahnya Pernikahan Kristen: Sebuah Pengajaran Alkitabiah. Surabaya, Jawa Timur, Indonesia: Momentum.

Tenney, M. C. (2009). Survei Perjanjian Baru. Malang, Jawa Timur, Indonesia: Gandum Mas.

 

 

 

  

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 12, 2013 by .
%d bloggers like this: