Irfansiswanto's Blogspot

Just another WordPress.com weblog

FILSAFAT PENGETAHUAN PADA ZAMAN YUNANI KUNO

FILSAFAT PENGETAHUAN PADA ZAMAN YUNANI KUNO

Menurut Simon Petrus Tjahjadi salah satu alasan mengapa kita perlu belajar Yunani karena gaya dan alam pemikiran Yunani membantu kita memahami unsur-unsur yang sebagian besar menjadi batu bangunan untuk kultur modern (misalnya, cara berpikir modern yang logis berdasarkan prinsip-prinsip ilmu logika) (2004, hal. 15). Jadi dapat dikatakan dengan memelajari filsafat Yunani kuno akan membantu kita memahami mengapa dan bagaimana kultur modern dan ilmiah sekarang ini terbentuk dan mendapatkan prinsip-prinsip pokoknya.

Prof. Koento Wibisono membagi zaman perkembangan filsafat Yunani menjadi tiga yaitu (1) Zaman kuno, (2) Puncak zaman klasik, dan (3) Hellenisme (1994, hal. 18-19). Puncak zaman klasik ditandai dengan munculnya Sokrates, Plato, dan Aristoles. Maka di dalam paper saya ini saya hanya akan membahas pemikiran filsafat pengetahuan yang berkembang pada zaman sebelum Plato muncul.

Sejarah pemikiran filsafat Yunani mulai berkembang di Miletos, Asia Kecil sekitar awal 6 SM (Wibisono, 1994, hal. 18). Lebih lanjut Prof. K. Bertens mengatakan bahwa “pemikiran filsafat” yang dimaksudkan bukan saja filsafat dalam arti sempit, tetapi pemikiran ilmiah pada umumnya. Artinya pada zaman ini pengetahuan telah berkembang. Pengetahuan itu sendiri diartikan oleh Prof. Koento Wibisono sebagai pengertian pada subjek mengenai hal yang terdapat pada objek (1994, hal. 22). Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa pengetahuan adalah hasil dari perbuatan mengetahui atau segala sesuatu yang diketahui.

Pada zaman ini, muncul para filsuf yang mencoba memahami dan menjelaskan dunia dan gejala-gejala di dalamnya tanpa bersandar pada mitos, melainkan pada logos. Logos itu berarti rasio (akal). Dengan logos ini, mereka mencari prinsip-prinsip rasional dan objektif-ilmiah yang menjelaskan keteraturan dunia dan posisi manusia di dalamnya (Tjahjadi, 2004, hal. 17). Thales (624-546 SM) mengatakan bahwa air adalah prinsip dasar (arche) segala sesuatu. Walaupun kita tidak memiliki catatan bagaimana Thales menyimpulkan bahwa air adalah prinsip dasar dari segala sesuatu tetapi Aristoteles menuliskan bahwa hal itu mungkin diperolehnya melalui pengamatan kejadian-kejadian sederhana seperti penguapan dan pembekuan yang merupakan bentuk berbeda dari air. Thales sudah mengubah cara berpikir dari mitos kepada pemikiran sains (Stumpf, 1999, hal. 7-8).

Anaximandros (611-546 SM) murid Thales, berpendapat lain. Ia mengatakan bahwa prinsip segala sesuatu bukanlah air sebab seandainya air merupakan prinsip segala sesuatu, seharusnya terdapat juga api di dalam segala sesuatu. Kenyataannya api dan air tidak bisa diperdamaikan, keduanya saling meniadakan. Maka, fakta adanya api memerlihatkan bahwa ajaran Thales itu tidak tahan uji (Tjahjadi, 2004, hal. 22). Pendapat ini didukung oleh Samuel E. Stumpf yang mengatakan bahwa Anaximandros lalu menetapkan bahwa prinsip dari segala sesuatu adalah prinsip abstrak yang dinamainya to apeiron, “yang tidak terbatas”. To apeiron ini bersifat ilahi, abadi, tetap, dan meliputi segala-galanya. Kesulitan menerima ajaran Anaximandros ini adalah bahwa ia mengembalikan dan mengarahkan segala sesuatu yang konkret kepada satu prinsip yang sama sekali abstrak, yakni to apeiron (1999, hal. 8). Walaupun demikian Anaximandros telah memajukan filsafat dengan berusaha menjelaskan teorinya berdasarkan hipotesis yang diformulasikan (Stumpf, 1999, hal. 8).

Tidak mustahil, lantaran keberatan semacam itu, Anaximenes (585-525 SM) mengembalikan lagi prinsip segala sesuatu kepada anasir alam, yakni udara. Menurut Anaximenes, semua benda dalam alam semesta tercipta karena suatu proses pengenceran dan pemadatan dari udara sebagai anasir dasariah ini: kalau udara itu menjadi encer, muncullah api. Sebaliknya, kalau udara semakin bertambah kepadatannya, muncullah berturut-turut air, tanah, dan batu (Stumpf, 1999, hal. 9-10). Pandangan bahwa udaralah prinsip dasar segala sesuatu, diterapkan Anaximenes juga pada pandangannya tentang jiwa manusia. Menurutnya, jiwa manusia tidak lain hanyalah udara yang dipupuk dengan bernafas. Seperti jiwa menjamin kesatuan tubuh, demikian pula udara melingkupi segala-galanya (Tjahjadi, 2004, hal. 23). Sayangnya Anaximandros dan Anaximenes memang membukukan pemikirannya tetapi kemudian hilang (Bertens, 2010, hal. 9).

Menurut Profesor K. Bertens diantara filsuf-filsuf Yunani pertama tentu tidak boleh dilupakan orang yang bernama Parmenides. Ia hidup di Elea, kota perantauan Yunani di Italia Selatan, pada awal abad 5 SM (2010, hal. 10). Dengan lebih lanjut beliau mengatakan bahwa Parmenides adalah filsuf pertama yang mempraktikkan cabang filsafat yang disebut “metafisika”. Metafisika mempelajari “yang ada” (Inggris: being). Parmenides boleh dianggap sebagai pendasar metafisika karena pendapatnya bahwa “yang ada ada dan yang tidak ada tidak ada”. Dari pendapat Parmenides ini harus disimpulkan bahwa yang ada (segala-galanya) tidak dapat dipertentangkan dengan sesuatu yang lain. Akibatnya harus dikatakan juga bahwa yang ada itu sama sekali satu, sempurna, dan tidak dapat dibagi-bagi. Dengan perkataan lain, tidak mungkin adanya pluralis dan tidak adanya perubahan dan gerak (2010, hal. 10-11).

Seperti yang dikatakan oleh Simon Petrus Tjahjadi bahwa pandangan Parmenides ini jelas menimbulkan persoalan besar bila dikonfrontasikan dengan pengalaman sehari-hari yang menunjukkan adanya perubahan yang terus-menerus pada segala sesuatu. Sebagai contoh, dalam pengalaman sehari-hari kita dapat berkata bahwa dinosaurus itu sudah tidak ada. Artinya, dinosaurus itu dulu pernah ada, tetapi sekarang sudah punah, tidak ada. Parmenides menanggapi persoalan semacam ini dengan menyatakan bahwa pengalaman inderawi dalam hidup sehari-hari menipu dan semu. Sesungguhnya, “yang ada” sebagai realitas sejati di balik segala perubahan itu tinggal tetap, abadi, dan tidak berubah (2004, hal. 27). Dari pendapatnya kita dapat menarik kesimpulan bahwa Parmenides membuat suatu pemisahan tajam antara apa yang kelak disebut sebagai “pengetahuan empiris” dengan “pengetahuan akal budi” yang murni dan sejati. Menurut Simon Tjahjadi Parmenides menulis ajaran filosofisnya dalam bentuk puisi tetapi tinggal fragmen-fragmennya saja. Bagian pokoknya adalah tentang “ada” (2004, hal. 32).

Lebih dalam lagi jikalau kita telusuri apakah memang “ada” yang menurut Parmenides yang tidak berubah itu ada? Herakleitos (550-480 SM) beranggapan bahwa dalam dunia alamiah tidak ada sesuatu pun yang tetap. Tidak ada sesuatu pun yang dapat dianggap sempurna dan tetap (Bertens, 2010, hal. 10). Segala sesuatu yang ada senantiasa “sedang menjadi” (panta rhei). Begitu juga kosmos yang indah dan tertata baik pun selalu berada dalam arus gerakan yang tidak terputus dari berbagai unsur yang bertentangan: musim panas menjadi musim dingin, musim dingin menjadi musim panas lagi, begitu seterusnya perubahan terjadi tanpa henti (Tjahjadi, 2004, hal. 28).

Permasalahannya bagaimana menyatukan unsur-unsur yang bertentangan dalam segala sesuatu sehingga “dari segalanya menjadi satu, dan dari satu menjadi segalanya”? Herakleitos mengatakan bahwa berkat logos (rasio dunia) semuanya dapat dipersatukan (Tjahjadi, 2004, hal. 28). Implikasi dari pemikiran Herakleitos ini adalah tidak ada satu realitas pun yang dapat dipikirkan tanpa realitas lawannya. Misalnya kita tidak akan mungkin mengerti “kehidupan” jikalau kita tidak mengerti apa itu “kematian”. Dari ajarannya tentang unsur-unsur yang semula bertentangan, tetapi berkat logos mereka dipersatukan. Herakleitos disebut sebagai pemikir dialektis yang pertama dalam sejarah filsafat. Dialektis adalah cara berpikir yang mengupayakan terjadinya sintesis atau persatuan dari dua hal yang saling berlawanan (Tjahjadi, 2004, hal. 28). Menurut Simon Tjahjadi Herakleitos menuliskan pemikirannya tentang alam tetapi hanya tersisa fragmen-fragmen kecil berisi sekitar 125 kata (2004, hal. 32).

Pada waktu yang sama seorang filsuf yang hidup dalam sejarah perantauan Yunani di Italia Selatan menempuh jalan lain yaitu Pythagoras. Ia tidak mencari suatu asas pertama yang dapat ditentukan dengan pengenalan indera, sebagaimana halnya dengan filsuf-filsuf pertama (satu-satunya kecuali Anaximandros). Menurut dia, segala sesuatu yang ada dapat diterangkan atas dasar bilangan-bilangan. Dengan hipotesis jika ternyata sebagian realitas terdiri dari bilangan-bilangan, mengapa tidak mungkin bahwa segala-galanya yang ada terdiri dari bilangan-bilangan (Bertens, 2010, hal. 10). Dari Pythagoras dan pengikutnya mempunyai jasa besar dalam memerkenalkan ilmu pasti. Pythagoras tidak meninggalkan tulisan apapun. Ia hanya mewariskan ajarannya secara rahasia kepada murid-muridnya yang memang telah “diseleksi” dengan ketat olehnya sendiri (Tjahjadi, 2004, hal. 33).

Dalam perkembangan selanjutnya filsuf-filsuf merasa terpesona dengan argumentasi yang disampaikan oleh para filsuf pada zaman Parmenides tetapi mereka tidak rela untuk mengorbankan kesaksian pancaindera kepada kecerdasan rasio. Maka dari itu mereka mencari jalan lain. Salah satu aliran filsafat itu adalah atomisme dengan tokoh utamanya bernama Demokritos. Atomisme mengajarkan bahwa segala sesuatu terdiri dari bagian-bagian kecil yang tidak dapat dipisahkan lagi (Bertens, 2010, hal. 11). Atom-atom ini tidak tertangkap pancaindera dan tidak mempunyai kualitas, misalnya, panas atau manis. Makanya menurut Demokritos prinsip dari alam semesta adalah atom-atom dan kekosongan. Kata “kekosongan” harus juga ditekankan sebab atom-atom bergerak. Gerakan memang mengandaikan adanya ruang kosong tempat atom bergerak (Tjahjadi, 2004, hal. 29).

Demokritos juga menerapkan ajarannya ini pada proses pengenalan, manusia, dan etika.

Ajaran Demokritos tentang pengenalan bertolak belakang dari keyakinannya bahwa setiap benda mengeluarkan gambaran-gambaran kecil (eidola) yang tersusun dari gugusan atom-atom. Gambaran-gambaran ini masuk ke dalam pancaindera; dan dengan demikian, disalurkan ke arah jiwa yang juga terdiri dari atom-atom. Adapun gugusan gugusan atom-atom yang satu membedakan dirinya dari gugusan yang lain melalui ciri-ciri kuantitatif belaka, yakni ciri-ciri yang menyangkut bentuk, dasar, kepadatan, dan penempatan ruangnya (Jadi, bukan ciri-ciri kualitatif sebab seperti ajarannya bahwa atom-atom tidak memiliki kualitas). Demokritos berpendapat bahwa manusia pun terdiri dari atom-atom. Ini sejalan dengan pandangannya bahwa jiwa manusia adalah atom-atom halus. Dengan ajaran etikanya, Demokritos mengajarkan bahwa aturan-aturan kehidupan praktis yang menunjukkan idealisme tinggi. Menurutnya, tujuan tertinggi dari hidup manusia adalah euthymia, keadaan batin yang sempurna; yang terdiri dari keseimbangan semua faktor dalam hidup. Yang bertugas mengusahakan keseimbangan ini adalah roh atau rasio (Tjahjadi, 2004, hal. 29-31).

Pandangan Demokritos ini membawa pengaruh besar bagi filsafat ilmu pengetahuan bahwa adanya ketergantungan mutlak antara subjek dan objek. Dengan kata lain, dalam proses pengenalan, baik subjek maupun objek tidak dapat berdiri sendiri. Menurut Simon Petrus Tjahjadi hingga kini karya Demokritos masih tersedia beberapa fragmen dari sekitar 60 tulisannya tentang alam semesta, etika, matematika, bahasa, lukisan, pertanian, dan ketentaraan. Keluasan pandangan dan banyaknya tema yang diminatinya menjadikan Demokritos sebanding dengan Aristoteles (2004, hal. 33).

            Dari keseluruhan filsuf sebelum Plato kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka telah membebaskan pemikiran mereka dari mitologi Yunani kepada pemikiran saintis. Thales adalah orang yang pertama kali membebaskan pemikirannya dari mitologi Yunani dan selanjutnya Anaximandros yang adalah muridnya Thales mengembangkan pemikiran saintis ini dengan berusaha menjelaskan teorinya berdasarkan hipotesis yang telah diformulasikan begitu juga dengan Anaximenes. Pythagoras adalah filsuf pertama yang membukakan pengetahuan baru tentang bilangan-bilangan dan ilmu pasti. Parmenides adalah peletak cabang filsafat pertama yaitu metafisika. Herakleitos disebut sebagai pemikir dialektis yang pertama dalam sejarah filsafat. Pandangan Demokritos ini membawa pengaruh besar bagi filsafat ilmu pengetahuan bahwa adanya ketergantungan mutlak antara subjek dan objek.

            Pengetahuan pada zaman Yunani kuno juga telah berkembang bukan hanya tentang asas dan hukum alam semesta tetapi juga kepada pengetahuan yang berkaitan dengan “ada,”, “kebenaran”, “pengetahuan sejati”, kodrat manusia dan tidak etisnya: “jiwa”, “yang baik”, “dan keutamaan” hidup.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. (2010). Ringkasan sejarah filsafat. Jakarta: Kanisius.

Stumpf, S. E. (1999). Socrates to Sartre: a history of philosophy (6th ed.). USA: The McGraw-Hill Companies.

Tjahjadi, S. P. (2004). Petualangan intelektual: konfrontasi dengan para filsuf dari zaman yunani hingga zaman modern. Yogyakarta: Kanisius.

Wibisono, K. (1994). Dasar-dasar filsafat. Jakarta: Universitas Terbuka, Depdikbud.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 3, 2014 by .
%d bloggers like this: