Irfansiswanto's Blogspot

Just another WordPress.com weblog

“HAKIKAT/ KARAKTERISTIK ESKATOLOGI DALAM PERJANJIAN LAMA”

BAB I PENDAHULUAN

Istilah eskatologi berasal dari dua kata Yunani, eschatos [hal-hal yang terakhir] dan logos [kata-kata, ilmu, atau doktrin], sehingga artinya adalah “doktrin tentang akhir zaman.” Umumnya doktrin ini dimengerti sebagai ajaran yang menunjuk pada segala peristiwa yang akan datang, baik dalam kaitannya dengan apa yang akan dialami oleh individu ataupun dunia secara keseluruhan. Dalam kaitannya dengan individu, maka yang dibicarakan dalam eskatologi adalah hal-hal seperti kematian fisik, kekekalan, dan sesuatu yang disebut “Masa Antara” – suatu masa diantara kematian seseorang dan sebelum terjadi kebangkitan akhir. Sedangkan dalam kaitannya dengan dunia secara keseluruhan, eskatologi membahas hal-hal seperti kedantangan Kristus yang kedua, kebangkitan umum, penghakiman akhir, dan kondisi akhir (Hoekema, 2004, hal. 3).

Seperti yang disampaikan Pdt. Yung Tik Yuk di dalam kelasnya bahwa tanda-tanda akhir zaman dan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua tidak cukup hanya meneliti Surat Wahyu saja melainkan harus dimulai dari sejak awal penciptaan atau kitab Kejadian karena penciptaan adalah pelaksanaan rencana Allah. Ini artinya, eskatologi tidak akan mungkin dapat dipahami secara utuh jika hanya berdasarkan kitab Wahyu saja.

Konsep eskatologi adalah konsep yang mendominasi dan ada di dalam keseluruhan isi Alkitab. Dalam hal ini, benarlah apa yang dikatakan Jürgen Moltmann bahwa:

“Dari awal hingga akhir, jadi bukan hanya pada bagian penutup saja, Kekristenan adalah soal eskatologi, pengharapan, melihat jauh ke depan, dan bergerak menuju akhir zaman. Itu sebabnya Kekristenan terus-menerus merevolusi dan mentransformasi masa kini. Eskatologi bukan hanya satu elemen kecil di dalam Kekristenan, tetapi ia adalah medium iman Kristen, bahkan kunci bagi semua kebenaran…. Karena itu sebenarnya eskatologi tidak dapat dianggap hanya sebagai salah satu bagian dari keseluruhan doktrin Kekristenan. Lebih dari itu, eskatologi adalah karakteristik dari semua proklamasi iman Kristen, hakikat keberadaan Kekristenan dan seluruh gereja.” (1967, dalam Hoekema, 2004, hal.3)

            Untuk dapat memahami apa yang dikatakan Jürgen Moltmann, kita harus memahami hakikat/ karakteristik eskatologi dari isi Alkitab secara keseluruhan baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Oleh karena itu, saya di dalam paper ini akan memaparkan hakikat/ karakteristik dari eskatologi sehingga pemahaman kita tentang eskatologi akan lebih mendalam. Di dalam paper ini, saya membatasi hakikat eskatologi yang akan saya bahas adalah dari sudut pandang Perjanjian Lama saja. Semoga paper ini bermanfaat bagi pembacanya dan terlebih lagi semoga paper ini berkenan di hadapan Tuhan.

BAB II ISI

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa para penulis Kitab Perjanjian Lama tidak memberikan kepada kita doktrin yang jelas tentang topik-topik yang berkaitan dengan “eskatologi di masa yang akan datang (future eschatology)” seperti: kehidupan sesudah kematian, kedatangan Tuhan Yesus yang kedua, penghakiman terakhir, dsb. Walaupun demikian, dari Perjanjian Lama terdapat suatu pengertian yang berorientasi kepada eskatologi. George Ladd (1974, dalam Hoekema, 2004, hal.4) mengatakan:

Jelas sekali bahwa pengharapan bangsa Israel akan Kerajaan Allah adalah pengharapan eskatologi sehingga eskatologi merupakan konsep yang mewarnai pengenalan bangsa Israel tentang Allah. Kritik dari kelompok Wellhausenian mengajarkan bahwa eskatologi adalah konsep yang muncul belakangan, yaitu di dalam masa sesudah peristiwa pembuangan bangsa Israel…. Sekarang ini, pendulum itu bergerak ke arah sebaliknya. Sekarang ini, semakin banyak sarjana Alkitab yang menyadari bahwa konsep tentang Allah sangat berkaitan erat dengan sejarah keselamatan bangsa Israel dan itu telah menimbulkan pengharapan eskatologi di dalam diri mereka.

            Salah satu dari sekian banyak sarjana Alkitab yang dikutip oleh Ladd adalah T. C. Vriezen, seorang profesor Perjanjian Lama di University of Utrecht. Vriezen (1970, dalam Hoekema, 2004, hal. 4-5) mengatakan bahwa visi eskatologi yang ada di dalam Perjanjian Lama merupakan “sebuah fenomena unik dari bangsa Israel dan tidak dijumpai di luar bangsa Israel.” Lebih lanjut ia mengatakan:

Eskatologi tidak mungkin muncul dalam suatu masyarakat agama yang meragukan kepemimpinan Allah. Eskatologi hanya muncul ketika suatu umat mau tidak mau harus berjalan dalam pengalaman bergantung penuh, hanya dengan iman, kepada Allah sebagai satu-satunya dasar kehidupan. Ketika iman semacam ini diperhadapkan kepada suatu bencana kehidupan, maka iman itu akan memampukan mereka untuk melihat masalah tersebut sebagai campur tangan ilahi yang Maha Adil, sehingga pada akhirnya mereka mengakui bahwa Allah yang Maha Kudus adalah Allah yang setia dan mencintai bangsa mereka (Israel). Dengan demikian, kehidupan bangsa Israel dalam sejarah memiliki aspek ganda: di satu pihak penghakiman dilihat sebagai peristiwa yang sudah sangat dekat dan di lain pihak pembaharuan bagi umat Allah akan segera muncul…. Eskatologi adalah keyakinan agamawi bangsa Israel yang muncul karena iman mereka kepada Allah yang sedang mengerjakan keselamatan di dalam bangsanya.

                Dari pernyataan yang dikemukakan oleh Vriezen terlihat dengan jelas bahwa eskatologi merupakan bagian yang tak terpisahkan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Keterkaitannya adalah inti cerita di dalam Perjanjian Lama terdapat pengharapan Kerajaan Allah, dan kehadiran Tuhan Yesus dari Nazaret yang menggenapi pengharapan tersebut yang merupakan inti utama cerita Perjanjian Baru. Dengan demikian kita dapat katakan bahwa inti cerita utama baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah eskatologi.  

Hakikat/ karakteristik Eskatologi dalam Perjanjian Lama

  1. Berisi pengharapan tentang Juruselamat yang akan datang

Dalam Kejadian 3, kisah tentang kejatuhan manusia segera diikuti dengan janji akan datangnya Juruselamat dalam ayat 15: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Jikalau kita telaah ayat ini mengandung pengertian bahwa Allah adalah sahabat manusia yang menjanjikan kedatangan Juruselamat dari benih seorang wanita atau kita dapat mengatakan bahwa ayat ini merupakan benih awal keseluruhan rencana keselamatan Allah bagi manusia. Itulah sebabnya, seluruh pernyataan di dalam Perjanjian Lama merujuk ke kedatangan Juruselamat yang dijanjikan.

Juruselamat yang akan datang, yang dalam Kejadian 3:15 hanya digambarkan sebagai keturunan wanita, dinyatakan secara lebih jelas sebagai keturunan Abraham dalam Kejadian 22:18. Kejadian 49:10 bahkan secara lebih khusus lagi menyatakan sebagai keturunan dari Suku Yehuda. Lebih jauh di dalam 2 Samuel 7:12-13 dikatakan bahwa Juruselamat itu akan dilahirkan dari keturunan Daud (Hoekema, 2004, hal. 5).

Umat Perjanjian Lama mengenal adanya tiga jabatan khusus, yaitu: nabi, imam, dan raja. Juruselamat yang datang diharapkan menjadi puncak dan penggenapan ketiga jabatan khusus tersebut. Ia diharapkan nabi yang besar (Ul 18:15). Ia diharapkan imam yang kekal (Mzm 110:4). Ia juga diharapkan menjadi raja yang besar bagi umat-Nya (Zak 9:9). Dalam hubungannya dengan pengharapan tentang raja yang akan datang, Juruselamat tersebut secara khusus dinubuatkan sebagai yang akan duduk di atas takhta Daud (2 Sam 7:12-13).

  1. Berisi pemahaman tentang Kerajaan Allah

Meskipun istilah Kerajaan Allah tidak digunakan dalam Perjanjian Lama, paham tentang Allah sebagai raja banyak dijumpai, khususnya dalam Mazmur dan kitab nabi-nabi. Allah berulang kali disebut sebagai raja bagi Israel (Ul 33:5; Mzm 84:4; 145:1; Yes 43:15) maupun bagi seluruh bumi (Mzm 29:10; 47:3; 96:10; 97:1; 103:19; 145:11-13; Yes 6:5; Yer 46:18). Namun karena keberdosaan dan pemberontakan umat-Nya, kepemimpinan Allah itu tidak sepenuhnya terwujud dalam sejarah bangsa Israel. Itulah sebabnya, para nabi melihat ke suatu masa di depan, di mana pemerintahan Allah akan sepenuhnya diwujudkan, bukan hanya atas bangsa Israel, tetapi atas seluruh bumi (Hoekema, 2004, hal. 8).

Kitab Daniel yang secara khusus mengembangkan konsep tentang kerajaan yang akan datang. Dalam Daniel 2, ia menubuatkan sebuah kerajaan yang suatu hari akan ditegakkan oleh Allah, yaitu kerajaan yang kekal dan yang akan meremukkan semua kerajaan lainnya (ayat 44-45). Dalam Daniel 7:13-14 dikatakan bahwa kepada seseorang seperti anak manusia akan diberikan kekuasaan kekal dan kerajaan yang tidak akan binasa selama-lamanya. Dengan demikian, dari Kitab Daniel kita mendapatkan gambaran yang jelas tentang kerajaan yang akan datang, tetapi juga mengaitkan nubuat tentang kerajaan tersebut dengan kedatangan Juruselamat yang ia gambarkan sebagai anak manusia.

  1. Memiliki makna perjanjian (kovenan) baru

Sebagaimana telah banyak ditunjukkan oleh para ahli Perjanjian Lama, ide tentang perjanjian merupakan wahyu utama dalam Perjanjian Lama. Namun demikian, pada masa Nabi Yeremia, Alkitab menceritakan bahwa umat Yehuda telah mengingkari Perjanjian Allah dengan melakukan penyembahan berhala dan pelanggaran-pelanggaran lainnya.

Meskipun beban utama nubuat nabi Yeremia adalah hari penghukuman, ia juga menubuatkan tentang perjanjian baru yang akan Allah buat dengan umat-Nya. Dikatakan, “Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN” (Yer 31:31-32; lihat juga ayat 33-34). Dari Perjanjian Baru (lih., Ibr 8:8-13; 1 Kor 11:25) kita memahami dengan jelas bahwa perjanjian baru yang dikatakan oleh Yeremia tersebut digenapi oleh kematian Tuhan Yesus di kayu salib untuk menebus dosa kita (Hoekema, 2004, hal. 9).

  1. Adanya konsep tentang pembaharuan Israel

Semenjak kerajaan Israel terpecah menjadi dua, baik Israel [utara] maupun Yehuda semakin lama semakin terjerumus ke dalam ketidaktaatan, penyembahan berhala, dan kemurtadan. Itulah sebabnya para nabi menubuatkan bahwa umat dari kedua kerajaan tersebut akan dibuang dan tercerai-berai. Namun demikian, di tengah-tengah nubuat yang menakutkan tersebut, ada pula nubuat tentang pembahasan. Ada banyak nabi yang juga menubuatkan tentang pembaharuan atas Israel dari pembuangan yang akan datang.

Perhatikanlah, misalnya, nubuat yang diucapkan nabi Yeremia ini: “Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku mencerai-beraikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka: mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak” (23:3).

Perhatikan pula kata-kata dalam Yesaya 11:11, “Pada waktu itu Tuhan akan mengangkat pula tangan-Nya untuk menebus sisa-sisa umat-Nya yang tertinggal di Asyur dan di Mesir, di Patros, di Etiopia dan di Elam, di Sinear, di Hamat dan di pulau-pulau di laut.” Dalam ayat ini, di mana seolah-olah pembaharuan Israel di masa yang akan datang adalah semacam keluarnya bangsa Israel dari Mesir untuk kedua kalinya.

Patut diperhatikan pula bahwa pembaharuan atas Israel yang dinubuatkan oleh para nabi memiliki nilai moral. Baik nabi Yehezkial (36:24-28) maupun nabi Yesaya (pasal 24-27) menekankan bahwa pembaharuan itu hanya akan terlaksana bila bangsa Israel bertobat dan menyerahkan diri kembali sepenuhnya kepada Allah (Hoekema, 2004, hal. 9).

  1. Adanya konsep tentang pencurahan Roh Allah
  2. Yoel 2:28-29 mengatakan “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu.”

Pencurahan Roh Allah merupakan konsep eskatologi lainnya yang terkait dengan pengharapan ke depan yang sangat dinanti-nantikan oleh orang-orang percaya Perjanjian Lama. Namun demikian, hal yang mengejutkan dari nubuat nabi Yoel adalah dalam ayat-ayat selanjutnya Yoel menyebutkan tentang tanda-tanda dahsyat di sorga dan di bumi : “Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu” (2:30-31).

Beberapa ayat dalam Perjanjian Baru (seperti Luk 21:25; Mat 24:29) mengaitkan tanda-tanda dalam kitab Yoel tersebut dengan kedatangan Yesus Kristus yang kedua. Namun Yoel sepertinya menubuatkan tanda-tanda tersebut seolah-olah sebagai peristiwa yang terjadi tidak jauh dari pencurahan Roh Allah. Jika seseorang menafsirkan tanda-tanda tersebut tidak secara harafiah (di mana matahari yang berubah menjadi gelap gulita digenapi dalam peristiwa kegelapan selama tiga jam ketika Yesus di atas kayu salib), akan tampak bahwa Yoel dalam nubuatnya melihat peristiwa-peristiwa yang terpisah satu dengan lainnya dalam jarak ribuan tahun sebagai satu kesatuan (Hoekema, 2004, hal. 10).

  1. Adanya konsep tentang hari Tuhan

Yoel 2:31 mengatakan “Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu.” Menurut Hoekema (2004, hal.11) mengatakan bahwa ayat ini membawa kita untuk memperhatikan konsep eskatologi lainnya yang muncul dalam Perjanjian Lama, yaitu hari Tuhan. Di dalam tulisan para nabi, hari Tuhan sering dimengerti sebagai hari yang akan terjadi dalam waktu dekat ketika Allah menghancurkan musuh-musuh bangsa Israel. Misalnya, Nabi Obaja menyatakan bahwa kehancuran Edom sebagai kedatangan hari Tuhan (ayat 15-16). Akan tetapi, hari Tuhan juga merujuk kepada hari akhir, hari penghakiman dan penebusan akhir.

Beberapa kali hari Tuhan yang dekat dan jauh dilihat sebagai suatu kesatuan dalam suatu penglihatan. Misalnya, Yesaya 13 mengatakan tentang hari Tuhan sebagai peristiwa yang tidak lama lagi, yaitu Babel dihancurkan (ayat 6-8, 17-22). Namun, masih dalam pasal yang sama, diantara gambaran tentang kehancuran Babel terdapat keterangan tentang hari Tuhan yang jauh di masa yang akan datang.

“Sungguh, hari TUHAN datang dengan kebengisan, dengan gemas dan dengan murka yang menyala-nyala, untuk membuat bumi menjadi sunyi sepi dan untuk memunahkan dari padanya orang-orang yang berdosa. Sebab bintang-bintang dan gugusan-gugusannya di langit tidak akan memancarkan cahayanya; matahari akan menjadi gelap pada waktu terbit, dan bulan tidak akan memancarkan sinarnya. Kepada dunia akan Kubalaskan kejahatannya, dan kepada orang-orang fasik kesalahan mereka; kesombongan orang-orang pemberani akan Kuhentikan, dan kecongkakan orang-orang yang gagah akan Kupatahkan” (Yesaya 13:9-11).

Dari ayat ini, tampaknya nabi Yesaya melihat kehancuran Babel dari hari Tuhan yang akhir sebagai hari yang sama, satu hari di mana Tuhan akan datang.

Memang makna ungkapan “hari Tuhan” dalam tulisan para nabi yang utama adalah untuk menggambarkan hari final kedatangan Tuhan. Akan tetapi, adakalanya artinya juga adalah hari di mana Tuhan menghakimi bangsa Israel. Seperti yang dikatakan nabi Amos dalam pasal ayat 18 “Celakalah mereka yang menginginkan hari TUHAN! Apakah gunanya hari TUHAN itu bagimu? Hari itu kegelapan, bukan terang!” Hal yang sama juga disampaikan oleh nabi Yesaya. Ia menggambarkan hari Tuhan sebagai hari penghakiman atas kemurtadan suku Yehuda:

Sebab TUHAN semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan; …

Manusia yang sombong akan ditundukkan dan orang yang angkuh akan direndahkan; hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu (2:12, 17).

Zefanya juga mengatakan tentang hari Tuhan sebagai hari murka Tuhan:

Sudah dekat hari TUHAN yang hebat itu, sudah dekat dan datang dengan cepat sekali! Dengar, hari TUHAN pahit, pahlawan pun akan menangis. Hari kegemasan hari itu, hari kesusahan dan kesulitan, hari kemusnahan dan pemusnahan, hari kegelapan dan kesuraman, hari berawan dan kelam (1:14-15).

Jikalau kita terus membaca kitab Zefanya khususnya ayat-ayat selanjutnya tampak jelas bahwa hari murka itu menunjuk pada hari penghakiman atas Yehuda dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi maupun kekacauan menjelang hari akhir yang melanda seluruh dunia.

Bukan berarti, Perjanjian Lama hanya berbicara tentang hari Tuhan sebagai penghakiman dan bencana. Seringkali hari itu juga dikatakan membawa keselamatan. Seperti contoh, Yoel 2:32 menjanjikan keselamatan bagi mereka yang berseru kepada nama Tuhan sebelum datangnya hari Tuhan. Dalam Maleakhi 4 juga dikatakan bahwa hanya tentang penghakiman atas para pelaku kejahatan yang mendatangkan “hari Tuhan yang besar dan dahsyat” (ayat 5), namun juga kesembuhan dan sukacita bagi orang yang takut akan nama Allah (ayat 2) (Hoekema, 2004, hal. 12).

Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa hari Tuhan sebagaimana dinubuatkan oleh nabi-nabi Perjanjian Lama merupakan hari penghakiman dan murka bagi sebagian orang, namun merupakan hari berkat dan keselamatan bagi yang lainnya.

  1. Adanya pengharapan akan langit dan bumi yang baru

Jikalau konsep tentang hari Tuhan seringkali berkonotasi dengan kesuraman dan kegelapan, maka ada konsep eskatologi lainnya dalam Perjanjian Lama yang menyuarakan sukacita, yaitu langit dan bumi yang baru. Menurut Hoekema mengatakan bahwa pengharapan eskatologis dalam Perjanjian Lama selalu mencakup kondisi yang akan terjadi di bumi (2004, hal.13). Seperti yang dikatakan oleh George Ladd:

Konsep alkitabiah tentang penebusan selalu mencakup bumi. Dalam pola pikir Ibrani ada suatu relasi yang erat antara manusia dan alam. Itu sebabnya para nabi tidak melihat bumi hanya sebagai panggung kehidupan manusia yang tidak ada kepentingannya, melainkan sebagai ekspresi kemuliaan ilahi. Pemikiran ini berbeda dengan pemikiran Yunani yang mengganggap keselamatan sepenuhnya hanya bersifat “rohani” atau menyangkut keberadaan yang nonmateri. Bumi adalah wadah yang ditetapkan oleh Allah sendiri bagi kehidupan manusia. Karena itu, bumi ikut tercemar oleh dosa, ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Ada saling keterkaitan antara bumi dan kehidupan moral manusia; itulah sebabnya bumi juga memperoleh bagian dalam penebusan final Allah (1974, dalam Hoekema, 2004, hal.13).

            Pengharapan bagi bumi ini tertulis dalam Yesaya 65:17:

            “Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati (bdk 66:22).

Ayat-ayat lain dalam Kitab Yesaya yang mengindisikan bahwa pembaharuan bumi ini menyangkut: tanah yang tandus akan menjadi tanah yang subur (32:15), padang gurun akan bersemi (35:1), tempat yang kering akan memancarkan air (35:7), damai di dalam dunia hewan (11:6-8), dan bumi akan dipenuhi dengan pengenalan akan Tuhan seperti air menutupi lautan (11:9) (Hoekema, 2004, hal. 13).

 

 

 

 

BAB III KESIMPULAN

            Dari penjelasan saya di bab II kita dapat mengambil kesimpulan hal-hal apa saja yang telah kita pelajari dari hakikat/ karakteristik eskatologi dalam Perjanjian Lama. Pertama-tama, terdapat pengharapan tentang Juruselamat yang akan datang, yang akan meremukkan dan menghancurkan kepala si ular. Selanjutnya, pengharapan eskatologis itu semakin diperkaya. Berbagai pengharapan eskatologis tersebut sudah tentu tidak berlangsung secara simultan dalam waktu yang bersamaan, melainkan dalam waktu waktu yang berbeda-beda. Walaupun begitu, kita tetap dapat melihat konsep-konsep tersebut sebagai serangkai peristiwa yang bersifat kumulatif, maka kita dapat mengatakan bahwa dalam zaman yang berbeda-beda semua orang percaya dalam Perjanjian Lama menantikan berbagai realitas eskatologis sebagai berikut:

  1. Kedatangan Juruselamat
  2. Kerajaan Allah
  3. Perjanjian (kovenan) baru
  4. Pemulihan bangsa Israel
  5. Pencurahan Roh Allah
  6. Hari Tuhan
  7. Langit dan bumi yang baru

Semua hal diatas merupakan cakrawala pengharapan orang-orang percaya Perjanjian Lama. Tentu saja mereka tidak mengetahui secara pasti bagaimana dan kapan pengharapan-pengharapan itu akan terpenuhi. Yang mereka ketahui adalah bahwa peristiwa-peristiwa eskatologis yang akan terjadi pada hari-hari yang disebut sebagai “hari Tuhan,” “hari-hari yang akan datang,”, “hari-hari yang kemudian,” akan tiba secara bersamaan pada suatu waktu yang akan datang.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hoekema, A. A. (2004). Alkitab dan akhir zaman: [The Bible and the future]. (S. Yo, Penyunt., & K. S. Budiman, Penerj.) Surabaya: Momentum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 3, 2014 by .
%d bloggers like this: